Minggu, 15 April 2012

Sekelumit Sejarah Nabi Muhammad SAW

Pendahuluan
Sebelum Nabi Muhammad diutus umat manusia dalam keadaan gelap gulita, penuh dengan segala macam kerusakan moral dan kebodohan. Keadaannya hampir menjerumuskan mereka kedalam kehancuran total. Sebagai contoh, di negeri arab orang-orang menyembah berhala dan patung yang nereka ciptakan sendiri.
            Islam diturunkan dinegeri arab pada masa adanya kebutuhan yang mendesak dari seluruh umat manusia akan agama baru. Karena pada masa itu ajaran para rosul terdahulu sudah tidak diindahkan lagi oleh manusia diseluruh negeri di dunia,baik timur maupun barat.
Allah SWT memerintahkan umat manusia agar menganut agama islam dan mengerahkan seluruh kehidupannya untuk meyakini dan mematuhi ajaran – ajarannya. Tujuannya adalah agar supaya manusia dapat mencapai keselamatan, kesejahteraan dan kebahagian dalam segala aspek kehidupan dunia dan akhirat, baik material maupun spiritual. Perintah allah untuk memeluk ajaran islam dapat dilihat dalam beberpa ayat al-Quran diantaranya surat ali imron ayat  102 yang artinya :
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.
Telaah kritik realitas historisitas Muhammad oleh Barat
Pengeritik-pengeritik Barat sering menganggap Nabi Muhammad terlalu duniawi, terlalu terlibat dalam masalah – masalah dunia fana, dan sehingga hal ini membatalkannya dari menjadi seorang yang benar – benar spiritual. Pandangan ini berakar dalam tradisi Kristen dimana tokoh – tokoh keagamaan harus meninggalkan dunia dan menempuh hidup yang bersahaja. Tokoh yang sempurna adalah Isa Al-Masih. Secara ideal ini menarik bahkan mungkin. Secara praktik ini sulit. Jadi Islam mencoba mencapai suatu posisi yang lebih tengah, suatu keseimbangan yang lebih besar.
Seorang Muslim yang baik harus menyeimbangkan dunia (dunya) dengan prinsip - prinsip agama (din). Dia harus hidup dalam dunia yang nyata tapi dipandu oleh prinsip -prinsip agama. Oleh ide tentang akhirat. Muslim yang ideal adalah Nabi Muhammad itu sendiri, memimpin umat yang bersembahyang dimasjid, pasukan dimedan pertempuran. Dewan-dewan tetua-tua saat mereka mendiskusikan masalah-masalah negara. Para penggantinya khalifah dan bahkan seluruh penguasa-penguasa Muslim telah mencoba mengikuti model ini. Keseimbangan antara dunya dan din adalah hal yang krusial bagi seorang Muslim.
Nabi Muhammad harus menghadapi kritik- kritik dalam masa hidupnya dan kritik –kritik itu terus ada sampai sekarang. Musuh-musuhnya di Mekkah mengatakan bahwa dia adalah seorang yang kesurupan’. Seorang tukan tenung’dan seorang yang mempertunjukkan kekuatan imajinatif. Mereka menudu QurĂ¡n sebagai suatu pemalsuan atau ilmu sihir yang mengandung cerita – cerita lama yang dicuri oleh nabi. Pendeta- pendeta Kristen abad pertengahan sudah pada tempatnya melihat Nabi Muhammad sebagai pusat bagi islam dan menyerangnya dengan kegilaan keagamaan. Bagi mereka, Nabi Muhammad adalah Antikristus. Cerita –cerita yang diedarkan oleh gereja menganggapnya sebagai seorang yang bermoral bejat, seorang dukun palsu dan musuh terakhir Kristus. Mereka mengalang orang- orang terutama dalam menghadapi Islam nampaknya tidak dapat dihentikan.
Dante menempatkan Nabi Muhammad di dalam neraka dalam karyanya Divine Comedy. Bagi Luther ada dua musuh terbesar Kristus. Nabi Muhammad dan paus. Drama karya Voltare Mohamet. Dikarang tahun 1742, adalah penggambaran keliru yang lain yang aneh sekali. Jadi Nabi Muhammad menjadi tiang utama bagi segala jenis penyakit social, politik dan agama dari islam sebagaimana yang dilihat oleh barat Kristen selama berabad- abad[1].

Masa Rosulullah di Madinah
Semenjak itu kota yasrib terkenal dengan sebutan Al-Madinah. Dan nama inilah yang akan kita pakai. Tahun rosulullah berhijrah dari Mekkah ke Madinah, ditetapkan sebagai permulaan tahun islam atau tahun hijrah.
Kebiasaan bangsa arab, mentarikhkan dengan peristiwa- peristiwa besar yang terjadi dalam masyarakat mereka. Peristiwa Nabi berhijrah dari Mekkah ke Madinah ini, dipandang sebagai satu peristiwa terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah mereka. Oleh karena itu kaum Muslimin mengambil peristiwa hijrah nabi ini jadi permulaan tahun, sebagaimana peristiwa tentara bergajah dan peristiwa – peristiwa lain pernah pula di jadikan permulaan tahun mereka. Adapun yang mengambil insiatif memulai tahun Islam dengan peristiwa hijrah itu ialah Umar Ibnu khatab. Beliau bermaksud supaya peristiwa hijrah itu jangan di lupakan oleh kaum Muslimin, kendatipun nanti banyak pula terjadi peristiwa – peristiwa besar dalam sejarah mereka. Akan tetapi menurut yang diriwayatkan oleh At-thabari, rosulullah yang menyuruh membuat tahun islam, dan tahun hijrah itu telah dimulai di waktu nabi masih hidup[2].
Perang – Perang Masa Nabi Muhammad SAW
Adapun perang-perang yang terjadi pada masa Nabi Muhammad Saw antara lain :
  1. Perang Badr
Perang Badr yang merupakan perang antara kaum Muslimin Madinah dan kaum musyrikin Kuraisy Mekah terjadi pada tahun 2H. perang ini merupakan puncak dari sejumlah pertikaian yang banyak terjadi antara pihak kaum Muslimin Madinah dan musyrikin Kuraisy. Perang ini berkorbar setelah berbagai upaya damai yang dilaksanakan Nabi Muhammad SAW gagal.
Tentara muslimin Madinah terdiri dari 313 orang dengan perlengkapan sederhana. Senjata mereka terdiri dari pedang, tombak, dan panah. Dalam perang ini nabi SAW sendiri yang memberi komando. Berkat kesetian kepada kepemimpinan nabi SAW dan dengan iman serta semangat yang membaja, kaum muslimin keluar sebagai pemenang[3]. Abu jahal, panglima perang Mekkah dan musuh utama Nabi SAW sejak awal, tewas dalam perang itu. Tujuh puluh orang yang tewas dari pihak Kuraisy dan 70 orang menjadi tawanan. Di pihak kaum muslimin, hanya 14 orang yang gugur sebagai syahid. Kemenangan ini sungguh merupakan pertolongan Allah SWT (QS.3: 123).
  1. Perang Uhud.
Perang yang terjadi di bukit Uhud ini berlangsung pada tahun 3 H. perang ini disebabkan oleh keinginan balas dendam orang-orang musyrikin Kuraisy Mekkah yang kalah dalam perang badr. Paukan Kuraisy, dengan dibantu oleh kabilah Tihama dan kinanah, membawa 3000 ekor unta dan 200 pasukan berkuda di bawah pimpinan *Khalid bin walid. Tujuh ratus orang di antara mereka memakai baju besi. Adapun pasukan nabi Muhammad SAW hanya berjumlah 700 orang.
Setelah belangsung perang tanding yang dimenangkan kaum muslimin, perang pun berkorbar. Prajurit – prajurit Islam dapat memukul mundur pasukan musuh yang lebih besar itu. Tentara Kuraisy mulai mundur dan kocar – kacir meninggalkan harta mereka[4].
  1. Perang *khandaq
Perang yang terjadi pada tahun 5 H ini merupakan perang antara kaum muslimin Madinah yang mengungsi ke Khaibar serta masyarakat Mekah di lain pihak. Karena itu perang ini dinamakan juga perang Ahzab (sekutu beberapa suku). Paukan gabungan ini terdiri dari 10.000 orang tentara. Salman al-Farisi, sahabat Nabi SAW, mengusulkan agar kaum muslimin membuat parit pertahanan pada bagian-bagian kota yang terbuka. Karena itu perang ini juga disebut Perang Khandaq (parit)[5].
Konsep perubahan  yang dibawa Muhammad dengan jihad dinil Islam.

Nabi Muhammad SAW dan para sahabat berjihad dan melaksanakan dakwah menyuruh manusia Kepada Allah dan Rosul-Nya, baik dalam keadaan ringan maupun berat, suka maupun tidak suka. Mereka melakukan persiapan jihad tatkala sempit maupun lapang, pada waktu musim panas maupun musim dingin. Beliau memberikan dorongan dan semangat, dan menganjurkan mereka untuk menshadaqahkan harta[6].
Mengenai konsep perubahan yang dialami oleh nabi Muhammad SAW dengan jihad Dinil Islamnya sebenarnya banyak , namun penulis menyebutkan konsep tersebut hanya sebagiannnya saja dari beberapa sejarah islam yang ada.
Adapun diantara konsep perubahan tersebut antara lain :
  1. Nabi Membangun masjid Nabawi
Nabi Muhammad SAW memanggil kedua anak yatim pemilik tanah, untuk dibeli tanahnya guna dibangun masjid diatasnya. Kedua anak yatim itu enggan menerima harga dari beliau saw. Kata keduanya : “ Ya Rasulullah, kami bermaksud untuk memberikan saja tanah itu padamu”. Rosulullah menolak menolak pemberian kedua anak yatim itu dan belaiu segera membayar harga tanah itu sepenuhnya sehingga dapat segera dibangun diatasnya sebuah masjid[7].
Untuk pembangunan masjid itu beliau sendiri ikut bekerja bersama kaum Muslimin. Beliau ikut mengangkati batu. Setiap kali beliau mengangkat batu, beliau berpantun : “ Ya Allah, sesungguhnya pahala itu adalah pahala akhirat. Berikan rahmat pada kaum Anshar dan Muhajirin[8].
  1. Tuntunan Adzan.
Latar belakang di tuntunkannya Adzan
Setelah Nabi dapat menguasai keadaan kota Madinah dan dapat menjalankan program islam. Kaum Muslim setiap waktu shalat berkumpul di masjid tanpa dipanggil. Nabi tidak senang untuk meniru cara kaum Nasrani maupun Yahudi untuk memanggil jamaahnya dengan memakai terompet, loncenga (genta) dan api sebagai tanda berkumpul.
Allah memberikan tuntunan pada kaum Muslimin cara terbaik untuk mengumpulkan mereka waktu shalat dengan cara adzan. Salah seorang sahabat Nabi bermimpi diajarkan Adzan oleh seorang dalam tidurnya. Setelah mimpi itu diceritakan kepada Nabi, beliau menetapkan Adzan itu untuk untuk memanggil shalat. Sebagai muadzinnya, nabi memilih sahabat Bilal bin Rahbah karena ia sangat merdu suaranya dan dia dijuluki Muadzin Rosulullah. 
  1. Timbulnya nifak
Al-Baihaqi meriwayatkan dari jalan Ibnu Ishaq, dari Abdullah bin Abu Bakar bin Hazm, yang di dalamnya disebutkan bahwa ketika Rasulullah saw. Merasa bahwa perjalanan yang ditempuh amat berat, beliau memerintahkan orang-orang kaya untuk mengeluarkan shadaqah sebagai perbekalan berjihad (dalam perang Tabuk). Maka orang-orang yang mempunyai harta mengeluarkan shadaqah, dan Usman bin Affan, yang tidak bisa disamai selainnya, yaitu sebanyak dua ratus unta. Demikian disebutkan dalam At-Tarikh, Ibnu Asakir, 1/108, dan Al-Bidayah: 3/540[9].
Yurisprudensi dan tata hukum syari’at Islam masa Nabi Saw
                    
Islam datang kepada Umat Manusia oleh seorang rasul yang diutus untuk memperbaiki kondisi bangsa Arab yang pada masa itu menyembah berhala, system masyarakat yang kacau balau. Pada awalnya Rasulullah sangat hati-hati dalam dakwahnya, beliau mengalami cukup banyak hambatan dan halangan yang dilakukan oleh suku Quraisy termotivasi umtuk menentang seruan Islam tersebut :
  1. Mereka tidak dapat membedakan antara kenabian dan kekuasaan.
  2. Nabi Muhammad SAW, mendakwahkan persamaan hak antara bangsawan dan hamba sahaya.
  3. Para pemimpin Quraisy tidak dapat menerima ajaran tentang kebangkitan kembali dan pembalasan Akhirat.
  4. Taklid kepada nenek moyang yang sudah berakar pada bangsa arab.
  5. Pemahat dan penjual patung memandang Islam sebagai npenghalang rezeki[10].
Inilah yang mengakibatkan dalam penerapan peraturan-peraturan maupun syariat Islam di perlukan adanya suatu proses bertahap.
Tahap awal dari orientasi islam adalah memenuhi aqidah yang merupakan landasan utama yang akan menjadi dasar bagi semua aspek kehidupan Masyarakatnya. Disamping itu, penghapusan sedikit demi sedikit moral bejad mereka, menghapus kebiasaan-kebiasaan jelek yang telah mendarah daging di kalangan mereka. Ini merupakan awal pembetukan hukum Islam yang menggunakan Al-Quran sebagai sumber atau dasarnya.
Pada masa kenabian, terdapat dua periode pembinaan hukum islam, yaitu periode Mekkah dan periode Madinah. Periode Mekkah dikenal sebagai periode penanaman aqidah dan akhlak, sedangkan Hijrahnya Nabi Muhammad ke madinah merupakan periode yang kedua dalam pembinaan hukum Islam. Periode Madinah di kenal sebagai periode panataan dan pemapanan Masyarakat. Oleh karena itu di periode Madinah inilah ayat-ayat yang memuat hukum-hukum mulai diturunkan baik yang bersifat ritual  maupun sosial. Adapun faktor nyang menyebabkan proyek hukum, banyak di bicarakan dalam periode madinah yaitu karena dalam periode ini orang Islam sudah memiliki dasar akhlak dan akidah yang kuat sebagai landasan terhadap aspek-aspek lainnya[11].
Peristiwa – peristiwa penting yang dialami Muhammad (hujah rasulillah)
Adapun peristiwa-peristiwa penting yang dialami Muhammad antara lain :
Pertama :
Rasulullah dan Abu Bakar berangkat pada hari Kamis tanggal 1 Rabi’ul Awwal tahun kelima puluh tiga dari kelahiran Nabi saw. Hanya Ali dan keluarga Abu Bakar saja yang tahu keberangkatan Nabi saw. dan Abu Bakar malam itu menuju Yatsib. Sebelumnya dua anak Abu Bakar, Aisyah dan Asma, telah menyiapkan bekal secukupnya untuk perjalanan itu. Kemudian Nabi saw. ditemani Abu Bakar berangkat bersama penunjuk jalan menelusuri jalan Madinah-Yaman hingga sampai di Gua Tsur. Nabi dan Abu Bakar berhenti di situ dan penunjuk jalan disuruh kembali secepatniya guna menyampaikan pesan rahasia Abu Bakar kepada putranya, Abdullah.
Tiga malam lamanya Nabi saw. dan Abu Bakar bersembunyi di gua itu. Setiap malam mereka ditemani oleh Abdullah bin Abu Bakar yang bertindak sebagai pengamat situasi dan pemberi informasi.
Kedua :
Di tengah perjalanan menuju Madinah, Rasulullah singgah di Quba’, sebuah desa yang terletak dua mil di selatan Madmnah. Di sana Beliau membangun sebuah Masjid dan merupakan Masjid pertama dalam sejarah Islam. Beliau singgah di sana selama empat hari untuk selanjutnya meneruskan perjalanan ke Madinah. Pada Jum’at pagi beliau berangkat dari Quba’ dan tiba di perkampungan Bani Salim bin Auf persis pada waktu shalat Jum’at. Lalu shalatlah beliau di sana. Inilah Jum’at pertama dalam Islam, dan karena itu khutbahnya pun merupakan khutbah yang petama.
Kemudian Nabi berangkat meninggalkan Bani Salim. Program pertama beliau sesampainya di Madinah ialah menentukan tempat di mana akan dibangun Masjid. Tempat itu ialah tempat di mana untanya berhenti setibanya di Madinah. Ternyata tanah yang dimaksud milik dua orang anak yatim. Untuk itu Nabi minta supaya keduanya sudi menjual tanah miliknya, namun mereka lebih suka menghadiah¬kannya. Tetapi beliau tetap ingin membayar harga tanah itu sebesar sepuluh dinar. Dengan senang hati Abu Bakar menyerahkan uang kepada mereka berdua.
Pembangunan Masjid segera dimulai dan seluruh kaum Muslimin ikut ambil bagian, sehingga berdiri sebuah Masjid berdinding bata, berkayu batang korma dan beratap daun korma.
Ketiga :
Kemudian Nabi mempersaudarakan antara orang-orang Muhajirin dengan Anshar. Setiap orang Anshar mengakui orang Muhajirin sebagai saudaranya sendiri, mempersilakannya tinggal di rumahnya dan memanfaatkan segala fasilitasnya yang ada di rumah bersangkutan[12].



[1]   Akbar S. Ahmed, REKONTRUKSI SEJARAH ISLAM Di Tengah pluralitas Agama dan peradaban, Jokjakarta : Fajar Pustaka Baru,Cetakan Kedua, hal 43-44.
[2]   Prof. Dr. Ahmad Salabi, Sejarah dan kebudayaan Islam, Jakarta :, P.T. DJAJAMURNI, Cetakan kedua, hal, 80.
[3]  Departemen Pendidikan Nasional, pusat perbukuan, Bagian proyek buku agama pendidikan dasar Jakarta, Ensilopedi Islam 3, hal PT ICTIAR BARU VAN HOEVE, Jakarta, hlm. 269.
[4]  Ibid, hal 270
[5]   Ibid.
[6]   Syaih Muhammad Yusuf Rah.a., KISAH TELADAN SEPANJANG ZAMAN Rasulullah Saw. Dan Para Sahabat R. hum. Jakarta selatan : Citra Risalah, cetakan 1, Syawal 1429 H/ Oktober 2008.
[7]   Kisah ini diriwayatkan oleh Bukhary dalam Jaami’ Shahihnya.

[8]   Ibnu katsir juz 2 hal. 251.
[9]   Opcit, Syaikh Muhammad Yusuf, hal. 576.
[10]   Ahmad Syalabi, Sejarah dan kebudayaan Islam, (Jakarta :Pustaka Al-Husna, 1983, hal 87-90.
[11]  Ibid.
[12]   http://www.dakwatuna.com.

0 komentar:

Poskan Komentar