Sabtu, 14 April 2012

Dasar Pendidikan Islam

BAB I
PENDAHULUAN
Setiap kegiatan atau aktivitas yang disengaja secara sadar untuk mencapai suatu tujuan harus mempunyai dasar atau landasan tempat berpijak yang kokoh dan kuat. Dasar adalah pangkal atau titik tolak suatu aktivitas. Di dalam menetapkan dasar suatu aktivitas manusia selalu berpedoman kepada pandangan hidup dan hukum-hukum dasar yang dianutnya, karena hal ini yang akan menjadi pegangan dasar di dalam kehidupannya. Apabila pandangan hidup dan hukum dasar yang dianut manusia berbeda, maka berbeda pulalah dasar dan tujuan hidupnya.[1]
Dasar adalah merupakan landasan tempat berpijak atau tegaknya sesuatu agar sesuatu tersebut tegak kokoh berdiri. dasar suatu bangunan yaitu fondamen yang menjadi landasan bangunan tersebut agar bangunan itu tegak dan kokoh berdiri. demikian juga dasar pendidikan islam yaitu fondamen yang menjadi landasan atau asas agar pendidikan islam dapat tegak berdiri tidak mudah roboh karena tiupan angin kencang berupa ideologi yang muncul baik sekarang maupun yang akan datang. dengan adanya dasar ini maka pendidikan islam akan tegak berdiri dan tidak mudah diombang-ambingkan oleh pengaruh luar yang mau merobohkan ataupun mempengaruhinya.[2]
Dalam makalah ini Pemakalah akan menjelaskan tentang Dasar-Dasar Pendidikan Islam yang spesifiknya penjelasan ini akan mengarah pada Dasar Ideal Pendidikan Islam atau bisa disebut Dasar Pokok Pendidikan Islam, sedangkan dasar operasionlnya aka dijelaskan oleh Pemakalah berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua amin.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Dasar Pendidikan Islam
Dasar adalah landasan untuk berdirinya sesuatu. Fungsi dasar ialah memberikan arah kepada tujuan yang akan dicapai sekaligus sebagai landasan untuk berdirinya sesuatu.[3] Di dalam setiap negara pasti mempunyai dasar pendidikan sendiri. Sebab ia merupakan pencerminan falsafah hidup suatu bangsa. Yang kemudian, suatu negara dalam menyusun pendidikan bangsanya berdasarkan kepada dasar tersebut. Dan oleh karena itu maka sistem pedidikan setiap bangsa itu pasti berbeda yang disebabkan karena mereka memiliki falsafah hidup yang berbeda.
Dasar pendidikan di malaysia misalnya, diasaskan kepada prinsip-prinsip rukon negara, karena rukon negara adalah merupakan falsafah hidup bangsa malaysia. Begitu pula dasar pendidikan di indonesia didasarkan kepada falsafah hidup bangsa indonesia yaitu pancasila.[4]
Dasar pendidikan islam tentu saja didasarkan kepada falsafah hidup umat islam dan tidak didasarkan kepada falsafah hidup suatu negara, sistem pendidikan islam tersebut dapat dilaksanakan dimana saja dan kapan saja tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu.[5]
B.     Dasar Ideal Pendidikan Islam
Yang dimaksud dasar ideal pendidikan islam di sini adalah dasar pokok pendidikan islam. Dasar pokok dari pendidikan islam ada dua; yaitu:
1.      Al-Qur’an
Abdul Wahab Khallaf seperti yang dikutif Ramayulis mendefinisikan Al-Quran adalah “kalam Allah yang diturunkan melalui malaikat Jibril kepada hati Rasulullah anak abdullah dengan lafaz bahasa arab dan makna hakiki untuk menjadi hujjah bagi Rasullah atas kerasulannya dan menjadi pedoman bagi manusia dengan penunjuknya serta beribadah membacanya”.[6]
Umat islam sebagai suatu umat yang dianugerahkan Tuhan suatu kitab suci Al-Quran, yang lengkap dengan segala petunjuk yang meliputi seluruh aspek kehidupan dan bersifat universal, sudah barang tentu dasar pendidikan mereka adalah bersumber kepada falsafah hidup yang berdasarkan kepada Al-Quran.[7]
Pada masa awal pertumbuhan islam, Nabi Muhammada Saw adalah sebagai pendidik pertama, telah menjadikan Al-Quran sebagai dasar pendidikan islam di samping Sunnah beliau sendiri.
Kedudukan, Al-Quran sebagai sumber pokok pendidikan islam dapat dipahami dari ayat Al-Quran itu sendiri.
Firman Allah dalam surat al-nahl.
!$tBur $uZø9tRr& y7øn=tã |=»tGÅ3ø9$# žwÎ) tûÎiüt7çFÏ9 ÞOçlm; Ï%©!$# (#qàÿn=tG÷z$# ÏmŠÏù   Yèdur ZpuH÷quur 5Qöqs)Ïj9 šcqãZÏB÷sムÇÏÍÈ
Artinya: “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”. (Q.S. Al-Nahl : 64)[8]
Selanjutnya Firman Allah Swt. dalam surat Shad:
ë=»tGÏ. çm»oYø9tRr& y7øs9Î) Ô8t»t6ãB (#ÿr㍭/£uÏj9 ¾ÏmÏG»tƒ#uä t©.xtFuŠÏ9ur (#qä9'ré& É=»t6ø9F{$# ÇËÒÈ    
Artinya: “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran”. (Q.S. Shaad : 29)[9]
Sehubungan dengan masalah ini, Muhammad Fadhil Al-Jamali seperti yang dikutip oleh Ramayulis menyatakan, bahwa “pada hakikatnya Al-Quran itu merupakan perbendarahan yang besar untuk kebudayaan manusia, terutama bidang kerohanian. ia pada umumnya merupakan kitab  pendidikan kemasyarakatan, moril (akhlak) dan spiritual (kerohanian).[10]
2.      Sunnah
Sunnah dapat dijadikan dasar pendidikan islam karena sunnah hakikatnya tak lain adalah penjelasan dan praktek dari ajaran Al-Qurân itu sendiri, disamping memang sunnah merupakan sumber utama pendidikan islam karena karena Allah Swt menjadikan Muhammad Saw sebagai teladan bagi umatnya.[11] Seperti yang dijelaskan dalam firman-Nya dalam surat Al-Ahzab sebagai berikut:
ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. ÇËÊÈ  
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (Q.S.Al-Ahzab : 21)[12]
Nabi mengajarkan dan mempraktekkan sikap dan amal baik kepada istri dan sahabatnya, dan seterusnya mereka mempraktekkan pula seperti yang dipraktekkan Nabi dan mengajarkan pula kepada  orang lain.
Adapun konsepsi dasar pendidikan yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw sebagai berikut:[13]
a.       Disampaikan sebagai rahmatan li al-alamin. seperti yang difirmankan Allah dalam surat Al-Anbiya’ ayat 107 sebagai berikut:
!$tBur š»oYù=yör& žwÎ) ZptHôqy šúüÏJn=»yèù=Ïj9 ÇÊÉÐÈ  
Artinya: “Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.
b.      Disampaikan secara Universal
c.       Apa yang disampaikan merupakan kebenaran mutlak. seperti yang difirmankan Allah dalam surat Al-Hajr ayat : 9. sebagai berikut:
$¯RÎ) ß`øtwU $uZø9¨tR tø.Ïe%!$# $¯RÎ)ur ¼çms9 tbqÝàÏÿ»ptm: ÇÒÈ  
Artinya: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.
d.      Kehadiran, Nabi sebagai evaluator atas segala aktivitas pendidikan. seperti yang difirmankan Allah dalam surat Al-Syura ayat : 48 sebagai berikut:
÷bÎ*sù (#qàÊtôãr& !$yJsù y7»oYù=yör& öNÍköŽn=tã $¸àŠÏÿym ( ÷bÎ) y7øn=tã žwÎ) à÷»n=t7ø9$# 3 !$¯RÎ)ur !#sŒÎ) $oYø%sŒr& z`»|¡SM}$# $¨ZÏB ZpyJômu yy̍sù $pkÍ5 ( bÎ)ur öNåkö:ÅÁè? 8pt¤ÍhŠy $yJÎ/ ôMtB£s% öNÍgƒÏ÷ƒr& ¨bÎ*sù z`»|¡SM}$# Öqàÿx. ÇÍÑÈ  
Artinya: “Jika mereka berpaling Maka Kami tidak mengutus kamu sebagai Pengawas bagi mereka. kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah). Sesungguhnya apabila Kami merasakan kepada manusia sesuatu rahmat dari Kami Dia bergembira ria karena rahmat itu. dan jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar) karena Sesungguhnya manusia itu Amat ingkar (kepada nikmat).”
e.       Perilaku Nabi sebagai figur identifikasi (uswah hasanah) bagi umatnya. seperti yang difirmankan Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 21 sebagai berikut:
ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. ÇËÊÈ  
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.
Menurut Ramayulis adanya dasar yang kokoh ini terutama Al-Quran dan Sunnah, karena keabsahan dasar ini sebagai pedoman hidup sudah mendapat jaminan Allah Swt dan Rasul-Nya.[14]
Firman Allah Swt :
y7Ï9ºsŒ Ü=»tGÅ6ø9$# Ÿw |=÷ƒu ¡ ÏmÏù ¡ Wèd z`ŠÉ)­FßJù=Ïj9 ÇËÈ  
Artinya: “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”. (Q.S. Al-Baqarah : 2).
Sabda Rasulullah Saw:
Artinya:
 “Kutinggalkan kepadamu dua perkara (pusaka) tidaklah kamu akan tersesat selama-lamanya, selama kamu masih berpegang teguh kepada keduanya, yaitu kitabullah dan sunnah Rasulullah”. (H.R. Bukhari Muslim)
Lebih lanjut Ramayulis menjelaskan, bahwa prinsip menjadikan Al-Quran dan Sunnah sebagai dasar pendidikan islam bukan hanya dipandang sebagai kebenaran keyakinan semata. lebih jauh kebenaran itu juga sejalan dengan kebenaran yang dapat diterima oleh akal yang sehat dan bukti sejarah. Dengan demikian menurut dia, barangkali wajar jika kebenaran itu kita kembalikan kepada pembuktian kebenaran pernyataan Allah Swt dalam Al-Quran.
y7Ï9ºsŒ Ü=»tGÅ6ø9$# Ÿw |=÷ƒu ¡ ÏmÏù ¡ Wèd z`ŠÉ)­FßJù=Ïj9 ÇËÈ  
Artinya: “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”. (Q.S. Al-Baqarah : 2).
Adapun kebenaran yang dikemukakan-Nya mengandung kebenaran yang hakiki, bukan kebenaran spekulatif dan relatif. Hal ini sesuai  firman-Nya yang menjamin terhadap kebenaran tersebut. sebagai berikut:
$¯RÎ) ß`øtwU $uZø9¨tR tø.Ïe%!$# $¯RÎ)ur ¼çms9 tbqÝàÏÿ»ptm: ÇÒÈ  
Artinya: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.(Q.S. Al-Hajr : 9)
C.     Dasar Tambahan
1.      Perkataan, Perbuatan dan Sikap para Sahabat
Perkataan, sikap dan perbuatan para sahabat juga dapat dijadikan dasar dari pendidikan islam selain Al-Quran dan Sunnah. perkataan mereka dapat dijadikan pegagang karena Allah sendiri yang memberikan pernyataan di dalam Al-Quran.
Firman Allah Swt.
šcqà)Î6»¡¡9$#ur tbqä9¨rF{$# z`ÏB tûï̍Éf»ygßJø9$# Í$|ÁRF{$#ur tûïÏ%©!$#ur Nèdqãèt7¨?$# 9`»|¡ômÎ*Î/ šÅ̧ ª!$# öNåk÷]tã (#qàÊuur çm÷Ztã £tãr&ur öNçlm; ;M»¨Zy_ ̍ôfs? $ygtFøtrB ㍻yg÷RF{$# tûïÏ$Î#»yz !$pkŽÏù #Yt/r& 4 y7Ï9ºsŒ ãöqxÿø9$# ãLìÏàyèø9$# ÇÊÉÉÈ  
Artinya :
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (Q.S. al-Taubah : 100).
Firman Allah Swt.
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama-sama dengan orang yang benar.” (Q.S. al-Taubah : 119)
Yang dimaksud dengan orang yang benar dalam ayat di atas adalah  para sahabat Nabi Saw.
Ramayulis dalam buku ilmu pendidikan islam menjelaskan, bahwa para sejarawan mencatat perkataan sikap sahabat-sahabat Nabi Saw. Yang dapat dijadikan sebagai dasar pendidikan dalam islam di antaranya adalah :
a.       Setelah Abu Bakar dibai’at menjadi kholifah ia mengucapkan pidato sebagai beriku:
“Hai manusia, saya telah diangkat untuk mengendalikan urusanmu, padahal aku bukan orang terbaik di antara  kamu. Jika aku menjalankan tugasku dengan baik, ikutilah aku. Tetapi jika aku berbuat salah, betulkanlah aku, orang yang kamu pandang kuat, saya pandang lemah sehingga aku dapat mengambil hak dari padanya, sedangkan orang yang kamu pandang lemah aku pandang kuat sehingga aku dapat mengambilkan haknya. Hendaklah kamu tat kepadaku selama aku taat kepada allah dan rasul-Nya, tetapi jika aku tidak mentaati allah dan rasul-nya, kamu tak perlu mentaatiku.
            Lebih lanjut Ramayulis menjelaskan, bahwa menurut pandangan Nazmi Luqa, ungkapan Abu Bakar ini mengandung arti bahwa manusia harus mempunyai prinsip yang sama di depan khaliknya. selama baik dan lurus ia harus diikuti, tetapi sebaliknya (kalau ia tidak baik dan lurus) manusia harus bertanggung jawab membetulkannya.
b.      Umar bin Khattab terkenal dengan  sikapnya yang jujur, adil, cakap, berjiwa demokrasi yang dapat dijadikan panutan masyarakat. Sifat-sifat Umar ini disaksikan dan dirasakan sendiri oleh masyarakat pada waktu itu sifat-sifat seperti ini sangat perlu dimiliki oleh seorang pendidik, karena di dalamnya terkandung nilai-nilai pedagogis dan teladan yang baik yang harus ditiru.
c.       Usaha-usaha para Sahabat dalam pendidikan islam sangat menentukan bagi perkembangan pendidikan islam sampai sekarang, di antaranya :
1)      Abu Bakar melakukan kodifikasi al-quran;
2)      Umar bin Khatab sebagai bapak reaktuator terhadap ajaran islam yang dapat dijadikan prinsip stratege pendidikan;
3)      Usman bin Affan sebagai bapak pemersatu sistematika penulisan ilmiah melalui upaya mempersatukan sistematika penulisan al-quran;
4)      Ali bin Abi Thalib sebagai perumus konsep-konsep pendidikan.
2.      Ijtihad
Setelah jatuhnya kekhalifahan Ali bin Abi Thalib berakhir pula masa pemerintahan al-Khulafah al-Rasyidun dan digantikan oleh khalifah bani Umaiyah. Pada masa ini islam telah meluas sampai ke Afrika Utara, bahkan ke spanyol. Perluasan daerah kekuasaan ini diikuti oleh ulama dan guru atau pendidik. Akibatnya terjadi pula perluasan pusat-pusat pendidikan yang tersebar di kota-kota besar seperti:
a.       Makkah dan Madinah (Hijaz);
b.      Basrah dan Kuffah (Iran);
c.       Damsyik dan Palestina;
d.      Fustat (Mesir)
Menurut Ramayulis, dengan berdirinya pusat-pusat pendidikan di atas, berarti telah terjadi perkembangan baru dalam masalah pendidikan; sebagai akibat interaksi nilai-nilai budaya daerah yang ditaklukkan dengan nilai-nilai islam. Ini berarti perlunya pemikiran yang mendalam tentang cara mengatasi permasalahannya yang timbul. Pemikiran yang seperti itu disebut “ijtihad”.
Imam mujtahid seperti Al-Auza’i, Abu Hanifah, dan Imam Malik yang telah ada pada masa itu, merasa butuh untuk memecahkan permasalahan yang timbul sebagai akibat interaksi-interaksi niali-nilai budaya dan adat istiadat yang berbeda tersebut dengan menggunakan ijtihad. Dengan demikian ijtihad dapat dijadikan sebagai sumber pendidikan, karena sesuai dengan hikmah islam.
Karena Al-Quran dan Hadits banyak mengandung arti umum, maka para ahli hukum dalm islam menggunakan “ijtihad” untuk menetapkan hukum tersebut. ijtihad ini terasa sekali kebutuhannya setelah wafatnya Nabi Saw. berkembangnya islam keluar jazirah Arab, karena situasi dan kondisinya banyak berbeda dengan di tanah Arab.
Ramayulis menyatakan, bahwa penggunaan ijtihad dapat dilaksanakan dalam seluruh aspek ajaran islam, termasuk juga aspek pendidikan. Ijtihada di bidang pendidikan ternyata semakin perlu, sebab ajaran islam yang terdapat dalam Al-Quran dan Al-Sunnah, hanya berupa prinsip-prinsip pokok saja. Bila ternyata ada yang agak terinci, maka rincian itu merupakan contoh Islam dalam menerapkan prinsip pokok tersebut. Sejak turunnya ajaran islam kepada Nabi Muhammad Saw. sampai sekarang. Islam telah tumbuh dan berkembang melalui ijtihad yang dituntut oleh perubahan situasi dan kondisi sosial yang tumbuh dan berkembang. Melalui ijtihad yang dituntut agar perubahan situasi dan kondisi sosial yang tumbuh dan berkembang pula, dapat disesuaikan dengan ajaran Islam.
Dengan demikian untuk melengkapi dan lebih mempermudah terealisasinya ajaran islam itu sangat dibutuhkan ijtihad, sebab globalisasi dari Al-Quran dan Hadits saja belum menjamin tujuan pendidikan islam akan tercapai.
Usaha ijtihad para ahli dalam merumuskan teori pendidikan islam dipandang sebagai hal yang sangat penting bagi pengembangan teori pendidikan pada masa yang akan datang, sehingga pendidikan islam tidak melegitimasi status quo serta tidak terjebak dengan ide justifikasi terhadap khazanah pemikiran para Orientalis dan Sekularis. Allah sangat menghargai atau pengapresiasi kesungguhan para Mujtahid dalam berijtihad.
Nabi Muhammad Saw. bersabda yang artinya:
“Apabila hakim telah menetapkan hukum, kemudian dia berijtihad dan ijtihadnya itu benar, maka baginya dua pahala, akan tetapi apabila ia berijtihad dan ternyata ijtihadnya salah, maka baginya satu pahala.” (HR. Bukhari Muslim dan Amr bin Ash)
3.      Maslahah Mursalah (Kemaslahatan Umat)
Maslahah Mursalah yaitu : “menetapkan peraturan atau ketetapan undang-undang yang tidak disebutkan dalam Al-Quran dan Sunnah atas pertimbangan penarikan kebaikan dan menghindarkan kerusakan”. Adanya surat nikah misalnya, walaupun tidak disebutkan secara tegas di dalam al-nash (al-Quran dan as-Sunnah), namun surat nikah tersebut diperlukan, untuk kemaslahatan umat agar menjadi bukti yang sah dan mendapat perlindungan hukum atas pernikahannya. Selain surat nikah, masih banyak hal lain yang termasuk produk maslahat al-mursalah, seperti ijazah, stempel surat, dan kartu tanda penduduk.
Para ahli pendidikan sejak dini harus mempunyai persiapan untuk merancang dan membuat paraturan sebagai pedoman pokok dalam proses berlangsungnya pendidikan sehingga pelaksanaan pendidikan islam tidak mengalami hambatan. Kegiatan ini tidak semuanya deterima oleh islam dibutuhkan catatan khusus sebagaimana dikemukakan oleh Abdul Wahab Khallaf seperti yang dikutip oleh Ramyulis sebagai berikut:
a.       keputusan yang diambil tidak menyalahi keberadaan-keberadaan al-Quran dan Sunnah.
b.      apa yang diusahakan benar-benar membawa kemaslahatan dan menolak kemudharatan setelah melalui tahapan-tahapan observasi penganalisaan.
c.       kemaslahatan yang diambil merupakan kemaslahatan yang baru universal yang mencakup totalitas masyarakat.
Menurut Ramayulis, masyarakat yang berada di sekitar lembaga pendidikan islam berpengaruh terhadap berlangsungnya pendidikan, maka dalam setiap pengambilan kebijakan hendaklah mempertimbangkan kemaslahatan masyarakat supaya jangan terjadi hal-hal yang dapat menghambat berlangsungnya proses pembelajaran.
4.      Urf (Nilai-Nilai dan Adat Istiadat Masyarakat)
al- ‘Urf  secara harfiah berarti sesuatu yang sudah dibiasakan dan dipandang baik untuk dilaksanakan. Adapun secara termenologi, al- ‘urf adalah kebiasaan masyarakat, baik berupa perkataan, perbuatan maupun kesepakatan yang dilakukan secara terus menerus dan selanjutnya membentuk semacam hukum tersendiri.
D.    SIMPULAN
Dasar pendidikan islam tentu saja didasarkan kepada falsafah hidup umat islam dan tidak didasarkan kepada falsafah hidup suatu negara, sistem pendidikan islam tersebut dapat dilaksanakan dimana saja dan kapan saja tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu.
Dasar ideal atau pokok pendidikan islam itu ada dua, pertama Al-Quran dan kedua Sunnah Nabi Muhammad saw.
Adapun konsepsi dasar pendidikan islam yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw adalah:
1.      Disampaikan sebagai rahmatan li al-alamin.
2.      Disampaikan secara Universal
3.      Apa yang disampaikan merupakan kebenaran mutlak.
4.      Kehadiran Nabi sebagai evaluator atas segala aktivitas pendidikan.
5.      Perilaku Nabi sebagai figur identifikasi (uswah hasanah) bagi umatnya.

DAFTAR PUSTAKA
Ramayulis, 2010, Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Kalam Mulia.
Uhbiyati, Nur, 2005, Ilmu Pendidikan Islam. bandung : pustak setia.





[1] Prof. Dr. H. Ramayulis, 2010, Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Kalam Mulia, hlm. 121.
[2] Dra. Hj. Nur Uhbiyati, 2005, Ilmu Pendidikan Islam. bandung : pustak setia, hlm. 19.
[3] Ramayulis, Loc. cit.,
[4] Ibid.
[5] Ibid.
[6] Ibid. hlm. 122.
[7] ibid.
[8] Diambil dari Al-Quran in word.
[9] Ibid.
[10] Ramayulis, Op. cit., hlm. 123.
[11] Ibid.
[12] Diambil dari Al-Quran in word.
[13] Ramayulis, Op. cit., hlm. 123.
[14] Ibid.

1 komentar:

  1. Sharing Anda mengenai dasar pendidikan islam sangatlah bermanfaat. Makalah ini sangat membantu pada perluasan pendidikan Islam. Semoga terus berkontribusi pada ilmu pengetahuan. Pendidikan Islam akan semakin berkembang dengan banyaknya para pemikir Islam. Amin

    BalasHapus