Senin, 21 Mei 2012

Analisis Silabus MTS Kelas IX Oleh Ainul Y

I.      PENDAHULUAN
Perubahan  zaman yang demikian cepat, menuntut kita  untuk menyesuaikan diri  termasuk dalam bidang pendidikan.  Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Pendidikan Nasional tahun 2006 nomor 21, 22 dan 23 dimana kurikulum  2006 ini disusun dengan istilah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah suatu pengembangan kurikulum yang didasarkan pada pengembangan standar kompetensi dan kompetensi dasar, yang mengacu pada  Standar Isi (SI) dan Standar kompetensi Lulusan (SKL). Kurikulum tersebut disusun dan disain agar terciptanya keberlangsungan proses pendidikan yang kondusif bagi peserta didik sehingga dapat hidup dan mandiri ditengah masyarakat yang heterogen.

Kurikulum Al-Qur’an hadits di Madrasah Tsanawiyah dikembangkan dengan pendekatan berikut:
  1. Lebih menitik beratkan target kompetensi dari pada penguasaan materi.
  2. Lebih mengakomodasi keragaman kebutuhan dan dan sumber daya pendidikan yang tersedia.
  3. Memberikan kebebasan yang lebih luas kepada pelaksana pendidikan di lapangan untuk mengembangkan dan melaksanakan program sesuai dengan kebutuhan dan situasi kondisi dengan dituangkannya dalam KTSP.
Kurikulum 2006 intinya adalah mengacu pada kurikulum sebelumnya yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi yang merupakan ciri dari Kurikulum 2004. Bedanya pada kurikulum 2006 pada Standar Kompetensi  terbagi menjadi standar kompetensi yang menyangkut teori dan standar kompetensi yang menyangkut praktek. Sehingga diharapkan peserta didik dapat benar-benar menguasai dan menerapkan Al qur’an dan hadits dalam kehidupan sehari-hari (terinternalisasinya teori dan praktek dalam diri peserta didik).
Dalam sebuah mata pelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik, tentunya sebagai seorang guru harus terlebih dahulu mengerti kira-kira apa saja bahan materi serta sejauh mana ruang lingkupnya yang akan disampaikan. Karena dalam proses pembelajaran kita tidak boleh mengajarkan sesuatu yang keluar dari scope atau ruang lingkupnya, jadi sesulit apapun materi yang akan disampaikan harus tetap dalam koridor mata pelajaran tersebut. Salah satu contoh Kali ini kami akan membahas tentang pengertian, karakteristik dan fungsi mata pelajaran al-Qur’an dan hadits, pendekatan pembelajaan, penilaian, ruang lingkup mata pelajaran Al-qur’an dan Hadits MTS Kelas IX dan analisis materi. Oleh karena itu untuk lebih jelasnya akan kami jelaskan dalam pembahasan dibawah ini. Agar sebagai seorang guru kita tidak bingung dalam menentukan apa yang akan kita sampaikan kepada peserta didik.

II.                PEMBAHASAN
A.    Pengertian
Al Qur’an Hadis merupakan unsur mata pelajaran Agama Islam pada madrasah yang memberikan pemahaman kepada peserta didik tentang Al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber  ajaran agama Islam.

B.     Karakteristik dan Fungsi Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadis
Dari keberadaannya tersebut implikasi dalam proses pembelajarannya tersebut harus menekankan keutuhan dan keterpaduan antara ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.
Mata pelajaran qur’an hadis pada Madrasah Tsanawiyah memiliki tiga karakteristik yaitu:
1.      Membaca (menulis) yang merupakan unsur penerapan ilmu tajwid
2.      Menterjemahkan makna (tafsiran) yang merupakan pemahaman, interpretasi ayat dan Hadis dalam memperkaya khazanah intelektual
3.      Menerapkan isi kandungan ayat/hadis yang merupakan unsur pengamalan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Secara fungsional pelajaran Al-Qur’an Hadis memiliki fungsi sebagai berikut:
  1. Pengajaran, yaitu penyampaian ilmu pengetahuan yang merupakan informasi dan pesan-pesan Al-Qur’an Hadis tentang berbagai disiplin ilmu pengetahuan.
  2. Sumber nilai, pengajaran Qur’an Hadis dapat melandasi nilai sikap, nilai keyakinan dan akhlak untuk terbentuknya insan yang utuh dalam rangka mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat kelak.
  3. Sumber motivasi, memberikan dorongan dan semangat yang kuat dalam beramal dan lebih meyakini akan makna perbuatan yang dilakukannya.
  4. pengembangan, yaitu pengembangan daya pikir dan nalar peserta didik melalui proses pendidikannya (membaca, menghafal dan menterjemahkan Al-Qur’an dan Hadits, sehingga dapat dikembangkan lebih lanjut daya nalar dan kemampuan sesuai dengan  tingkat perkembangannya.
  5. Perbaikan, yaitu dapat memberikan kesadaran dan kecerdasan dalam memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam keyakinan, pemahaman dan pengamalan  ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
  6. Pencegahan, yaitu dapat memberikan kekuatan dan kemantapan diri dalam mencegah segala hal yang datang dari berbagai sisi kehidupannya  yang dapat membahayakan dan menghambat peserta didik dalam perkembangannya menuju keimanan dan ketaqwaan
  7. Pembiasaan, yaitu pemahaman ilmu pengetahuan, penanaman dan pengembangan nilai-nilai Al-Qur’an dalam konteks lingkungan fisik dan sosial.

C.    Pendekatan Pembelajaran 
Cakupan materi pada setiap aspek dikembangkan dalam suasana pembelajaran yang terpadu, meliputi:
1.       Keimanan, mendorong peserta didik untuk mengembagkan pemahaman dan keyakinan tentang adanya Allah Swt sebagai sumber kehidupan.
2.       Pengamalan, mengkondisikan peserta didik untuk mempraktekkan dan merasakan hasil-hasil pengamalan isi  Al Qur’an dan Hadis dalam kehidupan sehari-hari.
3.       Pembiasaan, membiasakan sikap dan prilaku yang baik sesuai dengan ajaran Islam.
4.       Rasional, mengfungsikan rasio peserta didik sehinga isi dan nilai-nilai yang ditanamkan mudah difahami.
5.       Emosional, menggugah perasaan atau emosi peserta didik dalam menghayati kandungan Al-Qur’an dan Hadis sehingga lebih terkesan.
6.       Fungsional, menyajikan materi pelajaran yang memberikan manfaat nyata bagi peserta didik dalam kehidupan.
7.       Keteladanan, menjadikan guru dan komponen madrasah lainnya sebagai teladan dan cerminan dari individu yang mengamalkan isi Al-Qur’an dan Hadis.

D.    Penilaian
1.       Penilaian yang dilakukan merupakan pengumpulan informasi kemajuan belajar peserta didik secara utuh baik aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan.
2.       Teknik dan instrumen hendaknya dapat mengukur dengan tepat kemampuan dan usaha belajar peserta didik.
3.       Penilaian dilakukan dengan tes dan non tes.
4.       Pengukuran terhadap ranah sikap/afektif, dapat dilakukan dengan menggunakan cara non tes. Seperti skala penilaian, observasi dan wawancara.
5.       Penilaian terhadap ranah keterampilan/psikomotor dengan tes perbuatan . Dapat menggunakan lembar pengamatan atau instrumen lainnya.
Secara umum penilaian dalam proses pembelajaran Al Qur’an Hadist dapat dilihat pada buku Pedoman Khusus Al Qur’an Hadist.

E.     Ruang Lingkup Pembelajaran Al-Qur’an-Hadits MTS Kelas IX

Dalam mata pelajaran al-Qur’an dan hadits ada beberapa komponen yang perlu diperhatikan, antara lain sebagai barikut :


1. Menjelaskan tentang ayat-ayat al-Qur’an dan hadits Maksudnya adalah ayat-ayat al-Qur’an dan hadits yang diambil sebagai bahan materi atau bahan ajar yang telah disesuaikan  dengan tingkat pendidikan baik di MTS maupun MA.

2. Mufrodat
Untuk Mufrodat, biasanya tidak disebutkan semuanya melaikan hanya beberapa mufrodat saja yang dianggap sukar bagi siswa. Hal ini bertujuan untuk memudahkan para peserta didik dalam hal pemahaman. Karena mereka tahu arti mufrodatnya.

     3. Terjemah

Adalah menyalin atau memindahkan dari pada suatu bahasa kepada bahasa yang lain, mengalihbahasakan. Dengan ini akan membantu siswa dalam memahami ayat al-Qur’an dan hadits yang berkaitan dengan mata pelajaran.

     4. Tafsir atau penjelasan
Tafsir atau penjelasan ini juga dapat membantu siswa dalam memahami ayat al-Qur’an dan hadits yang berkaitan dengan mata pelajaran karena menghafalkan saja tidak cukup, harus dengan memahami atau menjelaskan. Karena dengan menjelaskan materi akan lebih kuat tersimpan dalam ingatan siswa dan sulit terlupaka
     5. Tajwid
Pengertian Tajwid menurut bahasa (etimologi) adalah: memperindah sesuatu.
Sedangkan menurut istilah, Ilmu Tajwid adalah pengetahuan tentang kaidah serta cara-cara membaca Al-Quran dengan sebaik-baiknya. Tujuan ilmu tajwid adalah memelihara
bacaan Al-Quran dari kesalahan dan perubahan serta memelihara lisan (mulut) dari
kesalahan membaca. Belajar ilmu tajwid itu hukumnya fardlu kifayah, sedang membaca
Al-Quran dengan baik (sesuai dengan ilmu tajwid) itu hukumnya Fardlu ‘Ain.

D. Analisis materi pelajaran al-Qur’an dan hadits MTS kelas IX Tsanawiyah.
1. Analisis Materi I
          a. Surah al-Qari’ah
سورة القارعة
بسم الله الرحمن الرحيم
الْقَارِعَةُ (1) مَا الْقَارِعَةُ (2) وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ (3) يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ (4) وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ (5) فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ (6) فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ (7) وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ (8) فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ (9) وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ (10) نَارٌ حَامِيَةٌ (11)

          b. Mufrodat

NO
Arti
Mufrodat
1
Kiamat
الْقَارِعَةُ
2
Tahukah kamu
 وَمَا أَدْرَاكَ
3
seperti anai-anai yang bertebaran
كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ
4
gunung-gunung
الْجِبَالُ
5
seperti bulu yang dihambur-hamburkan
كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ
6
orang-orang yang berat timbangan
مَنْ ثَقُلَتْ
7
api yang sangat panas.

نَارٌ حَامِيَةٌ

c.       Terjemah
Artinya :
1. Hari Kiamat, 2. apakah hari Kiamat itu?, 3. Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?, 4. Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran, 5. dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan., 6. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, 7. maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. 8. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, 9. maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. 10. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? 11. (Yaitu) api yang sangat panas.

d.      Tafsir atau penjelasan
Secara bahasa, lafal الْقَارِعَةُ berarti bahaya besar, peristiwa besar yang menggungkan hati (hari kiamat), hari hancurnya alam semesta. Denagn demikian, hukum fenomena alam yang dimaksud pada Surah al-Qari’ah adalah peristiwa besar yang disebut yaumus-saah atau hari kiamat.
Pada ayat 1-3, Allah SWT. Mengingformasikan tentang adanya hari kiamat. Ayat ini dimulai dengan pernyataan. “Hari kiamat”. Setelah Allah swt. Menyebut, kemudian bertanya kepada Rasulullah saw., “apakah hari kiamat itu? Dan tahukah kamu apakah hari kiamat itu? Pertanyaan ini bukan berarti menunjukkan ketidaktahuan Allah.
Pada ayat 4 dan 5, Allah SWT, menjelaskan peristiwa pada saat terjadinya hari kiamat. Pada saat itu, terjadi peristiwa yang sangat dahsyat dan belum pernah terjadi sebelumnya.
Ayat 6-7 menjelaskan tentang keadaan orang-orang yang memiliki timbangan amal kebaikan yang lebih banyak. Setelah hari terjadinya hari kiamat, ada tiga tahapan yang akan dilalui manusia yaitu yaumul-ba’as, yaumul mahsyar, dan yaumul jaza’.

e.       Tajwid

No
Kata
Hukum
Keterangan
1
مَوَازِينُهُ
Mad Shilah Qashirah
Ha dhamir dibaca panjang dua harakat.
2
فَأُمُّهُ
Mad Shilah Qahirah
Ha dhamir dibaca panjang dua harakat.


       2. Analisis materi II
           a. Surah az-Zalzalah
سورة الزلزلة
بسم الله الرحمن الرحيم
إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا (1) وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا (2) وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا (3) يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (4) بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا (5) يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ (6) فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8).

           b. Mufrodat

Mufrodat
Kata
No
Bumi digoncangkan
زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ
1
Dan bumi telah mengeluarkan
وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ
2
Beban -beban berat (yang dikandung)nya
أَثْقَالَهَا
3
Pada hari itu bumi menceritakan
يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ
4
Keluar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam,
يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا
5
Seberat dzarrahpun
مِثْقَالَ ذَرَّةٍ
6
Melihat (balasan)nya pula.

يَرَهُ
7

         c. Terjemah

1.Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), 2. dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya,3. dan manusia bertanya: "Mengapa bumi (menjadi begini)?", 4. pada hari itu bumi menceritakan beritanya, 5. karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya, 6.Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka,7.Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, 8. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.

         d.  Tafsir atau penjelasan

Pada Ayat 1 dan 2, Allah swt. Menyatakan.Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), 2. dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, Hukum fenomena alam terungkap dalam ayat ini adalah guncangnya bumi sehingga beban-beban berat yang ada di dalamnya dimuntahkan keluar. Kejadian ini sebagai awal terjadinya hari kiamat (kehancuran alam semesta).

         e.  Tajwid

No
Kata
Hukum
Keterangan
1
يَرَهُ
Mad Shilah Qashirah
Ha dhamir dibaca panjang dua harakat.
2
شَرًّا يَرَهُ
Mad Shilah Qahirah
Ha dhamir dibaca panjang dua harakat.


     3. Analisis Materi III
       :  a. Hadits tentang menuntut ilmu
عَنْ اَنَسِ ابْنِ مَالِكٍ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
طَلَبُ الْعِلمِ فَريْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ ( رَوَاهُ اِبْنُ مَاجَه )
         b. Mufrodat
No
Kata
Mufrodat
1
Menuntut ilmu
طَلَبُ الْعِلمِ
2
Wajib
فَريْضَةٌ
3
Bagi setiap muslim
عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
       c. Terjemah hadis menuntut ilmu
Artinya : Dari Anas bin Malik ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim”. (HR. Ibn Majah).
       d. Penjelasan/ Syarh
Hadits riwayat Ibnu Majah tersebut mengandung pengertian bahwa mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Kewajiban itu berlaku bagi laki-laki ataupun perempuan, anak-anak ataupun dewasa. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk malas mencari ilmu. Ilmu yang wajib diketahui oleh setiap muslim adalah ilmu-ilmu yang berkaitan dengan tata cara peribadahan kepada Allah SWT. Sedangkan beribadah kepada Allah SWT tanpa mengetahui ilmunya dapat mengakibatkan kesalahan. Apabila dalam beribadah salah tata caranya, ibadah itu tidak akan diterima Allah SWT.

Minggu, 29 April 2012

TASAWUF (Jalan Mendekat dan Mencintai Allah SWT) Oleh: Khoirul Hafidz Fanani

            Kalau sastra adalah seni bahasa, tari adalah seni gerak, bernyanyi adalah seni suara, musik adalah seni nada, maka tasawuf adalah seni ibadah kepada Allah SWT. Dan kalau ibadah kita maksudkan untuk menjalani hidup ini dengan cinta kepada-Nya, maka tasawuf adalah seni menjalani hidup dengan cinta dan mesra kepada Dzat Yang Maha Indah, Allah Swt.
            Para sufi (pelaku tasawuf) itulah orang yang cinta kepada-Nya. Dan cinta kepada Allah berarti cinta kepada nilai-nilai luhur yang datang dari-Nya, cinta kebenaran, kejujuran, kesetiaan, kemerdekaan, dan sederetan panjang nilai-nilai luhur lainnya.
            Rabi'ah al-Adawiyah (lahir sekitar 95-99 H), misalnya, menyatakan bahwa beribadah kepada Allah, hanya karena cintanya yang mendalam, rindu yang begitu syahdu untuk melihat wajah-Nya. Dalam sya'irnya, ia nyatakan:
"Tuhanku
Kalau aku mengabdi-Mu karena takut akan neraka-Mu
Maka bakarlah aku di neraka jahanam itu
Kalau aku mengabdi-Mu karena ingin surga-Mu
Maka tampiklah aku dari surga-Mu itu
Tetapi kalau aku mengabdi-Mu karena cintaku kepada-Mu
Maka janganlah tampik aku untuk melihat keindahan wajah-Mu"
            Al-Hallaj (244-309 H), ketika akan dibunuh, tubuhnya akan dicincang dan dibakar, dan abunya akan disebarkan ke seluruh penjuru angin, sama sekali ia tak gentar dan takut. Karena ia merasa akan bertemu dengan Sang Kekasih yang sangat dirindukannya.
            Imam al-Qusyairi (376-465 H), penulis kitab al-Risalah al-Qusyairiyah, yang tidak takut menghadapi ancaman fuqaha serta Mutakllimin Muktazilah yang selalu memusuhi dan menjebloskan ke dalam penjara, karena mereka berkuasa pada waktu itu dan menggunakan kekuasaan tersebut sesuai dengan hawa nafsu mereka. Al-Qusyairi tidak takut karena cintanya kepada Allah SWT mengalahkan segala-galanya. Dalam menafsirkan Basmalah pada awal surat Al-Hijr, Al-Qusyairi menyatakan:
"Bismillah, minuman yang diregukkan oleh al-Haq, kepada para kekasih-Nya, Setelah mereka minum, mereka berdendang. Setelah berdendang, mereka beriang gembira, kemudian mereka sama-sama menyaksikan kebenaran-Nya dan pada terbuai mesra oleh kedekatan-Nya. Kesadaran mereka jadi putus lenyap, akal mereka jadi tenggelam dalam kelembutan-Nya, dan qolbu mereka jadi lebur dalam penyingkapan-Nya."
Begitu pula al-Niffari (w.354 H), penyair sufi yang begitu kental penyerahan dirinya kepada Allah SWT, yang merupakan puncak kepasrahan dan cinta kepada-Nya yang mendalam, katanya:
"Ilmu adalah huruf, yang tak terungkap kecuali oleh perbuatan
Dan perbuatan adalah huruf, yang tak terungkap kecuali oleh keikhlasan
Dan keikhlasan adalah huruf, yang tak terungkap kecuali oleh kesabaran
Dan kesabaran adalah huruf, yang tak terungkap kecuali oleh kepasrahan".

Kanjeng Nabi Muhammad SAW, pernah mengungkapkan dalam doanya:
"Ya Allah, karuniailah aku dengan cinta kepada-Mu, cinta kepada orang-orang yang mencintai-Mu, cinta kepada orang-orang yang mendekatkan aku akan cinta-Mu, dan jadikanlah cintaku kepada-Mu lebih dari cintaku kepada diriku sendiri dan dari kecintaanku akan air yang sejuk."
            Demikianlah sekelumit contoh dari orang-orang yang menjalani hidupnya dengan penuh cinta kepada Allah SWT. Dengan cinta kepada-Nya yang dalam itulah, mereka sanggup mencintai manusia dan kemanusiaan yang sangat dalam. Akar pijakannya begitu dalam dan kuat. Tidak takut kepada siapapun, kecuali kepada Allah SWT. Sehingga hidupnya tidak akan plin-plan atau munafik dalam hidupnya. Teladan seperti inilah yang kita perlukan terutama di zaman akhir seperti sekarang ini.

Maqamat
            Jika kaum sufi ingin mendekatkan diri kepada Allah, tidak hanya sekedar dekat, tetapi ingin sedekat mungkin, sehingga mereka dapat melihat Allah (ma'rifat), malahan lebih dekat dari itu, mereka bisa mengalami persatuan (ittihad) dengan Allah, maka harus melalui terminal-terminal (maqamat). Karena maqamat adalah landasan tasawuf.
            Sebagai ilustrasi dan contoh untuk mengadakan perjalanan kepada Allah (suluk) adalah sebagai berikut:
            Allah adalah bersifat Immateri dan Mahasuci. Maka unsur dari manusia yang dapat bertemu dengan Allah adalah unsur immateri manusia, yaitu hati, dan hati harus suci. Yang dapat mendekati Mahasuci adalah yang suci.
            Hati manusia, yang masuk ke dalam tubuh manusia, bisa dibuat kotor oleh hawa nafsu. Oleh karena itu ruh harus disucikan terlebih dahulu dari kotoran-kotoran yang melekat dari dirinya.
            Pembersihan itu dapat dilakukan melalui ibadah shalat, puasa, zakat, haji, membaca al-Qur'an, dan selalu mengingat Allah dengan berdzikir. Memang tujuan dari ibadah adalah untuk menghindarkan diri dari perbuatan keji dan munkar. Dan dengan demikian, dapat membuatnya bertakwa, bersih, dan dekat dengan Allah SWT.
            Jika sufi melakukan ibadah shalat, maka shalat yang dilakukan tidak hanya cukup shalat wajib, tetapi juga shalat-shalat sunnah, dan ditambahi dengan dzikir-dzikir. Ia banyak membaca Al-Qu'ran, bahkan mengkhatamkannya dalam waktu satu atau dua hari. Lidahnya selalu dihiasi dengan bacaan-bacaan ayat-ayat al-Qu'an.
            Jika sufi ingin menjauhkan dari dari kotoran dosa, biasanya ia melakukan puasa. Karena puasa tidak hanya sekedar menghindari makan dan minium, tetapi juga dapat mengurangi godaan hawa nafsu. Kalau perut kenyang, orang menjadi kuat dan banyak bernafsu. Tetapi jika perut kosong, maka dapat membuat orang lemah, dan nafsunya mengecil. Dan dalam dunia sufi, biasanya dengan puasa akan dapat mematikan nafsu. Sehingga sufi-pun akan terbebas dari godaan-godaan nafsu, seperti cinta dunia, dan juga terhindar dari penyakit-penyakit hati. Akhirnya hati-nya menjadi suci. Setelah itu, sufi baru dengan mudah mendekatkan diri dengan Allah. Namun untuk menuju dekat dengan-Nya, ia harus menempuh jalan (thariqah) yang panjang dan penuh duri, dan berisi terminal-terminal (maqamat).
            Misalnya maqam pertama, adalah taubat. Taubat dari dosa besar dan kecil. Taubat ini biasanya memakan waktu yang cukup lama, bisa bertahun-tahun. Dan setelah selesai dari taubat ini, calon sufi mulai taubat dari hal-hal yang makruh dan syubhat.
            Untuk memantapkan taubat, calon sufi harus memasuki maqam zuhud, yaitu menghindari dari ketertarikan urusan-urusan duniawi. Biasanya, dengan cara mengasingkan diri dari khalayak ramai. Ia ber-khalwat. Seperti yang pernah dilakukan oleh Imam Ghazali (450-505 H) di menara masjid Damsyik. Di tempat penyendiriannya itu, calon sufi banyak melakukan shalat, dzikir, membaca al-Qur'an, dan lain-lain. Setelah bertahun-tahun berzuhud, ia sudah tidak lagi digoda oleh urusan-urusan duniawi, maka ia kembali ke hidup sebelumnya, bercampur dengan masyarakat dan memberi nasehat- nasehat kepadanya. Imam Ghazali kembali kepada keluarganya setelah sepuluh tahun mengembara untuk ber-khalwat.
            Jadi sufi tidak selamanya mengasingkan diri dari dunia ramai. Ia menjahui masyarakat, hanya dalam waktu sementara.
            Setelah selesai dari zuhud, calon sufi memasuki maqam wara'. Ia menjadi orang wara' dengan meninggalkan hal-hal yang syubhat dan makruh. Menurut literatur tasawuf: tangan sufi tidak bisa mengulurkan tangannya untuk mengambil perkara-perkara yang syubhat.
            Kemudian, ia pindah ke maqam faqr. Di sini ia hidup sebagai orang fakir. Baginya cukup satu atau dua helai pakaian. Kalau ada makanan ia makan, kalau tidak, ia puasa. Ia tidak meminta sungguhpun ia tidak punya. Tetapi kalau diberi orang, ia tidak menolak pemberiannya.
            Setelah memasuki maqam faqr, ia masuk kepada maqam shabr. Ia sabar menghadapi segala yang datang dari Allah. Ia tidak mengeluh, dan menerima cobaan yang menimpanya. Ia tidak menunggu datangya pertolongan. Ia sabar menderita.
            Selanjutnya ia beralih ke maqam tawakkal. Ia menyerah sebulat-bulatnya kepada putusan Allah. Ia tak memikirkan hari-hari yang akan datang. Apa yang ada hari ini sudah cukup. Ia tidak mau makan kalau ada orang yang lebih membutuhkan terhadap makanan itu darinya. Ia bersikap bagaikan telah mati.
            Akhirnya, calon sufi sampai kepada maqam ridlo. Di sini, ia ridho dan bahkan kadang-kadang merasa senang dengan cobaan yang ditimpakan kepadanya. Ia tidak meminta apa-apa dari Allah, surga pun tidak. Rasa takut dalam hatinya telah hilang, dan sebagai gantinya adalah rasa cinta kepada Allah.
            Dari maqam ridho itulah, seorang sufi merasa dekat dengan Allah. Rasa cinta yang bergelora dalam hatinya, membuatnya sampai ke maqam mahabbah (cinta ilahiyyah). Hatinya telah begitu penuh dengan rasa cinta, sehingga tidak terdapat lagi tempat di dalamnya untuk rasa benci kepada apa dan kepada siapapun. Ia mencintai Allah, dan juga mencintai makhluk Allah.
            Rasa cinta yang tulus di dalam hatinya dibalas oleh Allah, akhirnya ia pun dapat melihat Allah dengan mata hatinya. Tabir antara dirinya dengan Allah telah hilang, dan ia pun akhirnya telah berhadapan dengan Allah. Ia telah mencapai maqam ma'rifat.
            Peralihan dari maqam mahabbah ke maqam ma'rifat telah dirasakan oleh Rabi'ah al-Adawiyyah, seperti tergambar dalam sya'irnya di atas.
            Di maqam ma'rifat, sufi telah dekat sekali dengan Allah. Tetapi itu belum memuaskan baginya. Ia belum puas hanya dekat dan berhadapan dengan Allah, ia ingin dekat lagi, dan menyatu dengan Allah.
Ia berusaha melupakan dirinya dan memusatkan kesadaran pada diri Allah. Ia pun rampai ke tingkat fana', hancur kesadarannya tentang dirinya, dan tinggal kesadarannya tentang diri Allah. Yang terakhir ini disebut baqa'. Fana' dan baqa' adalah kembar dua. Ada yang menyebut baqa' adalah ketika sufi telah sadar kepada kondisi semula. Kembali kepada kesadaran dirinya sebagai manusia.
Dengan hancurnya kesadaran sufi tentang dirinya, dan tinggal kesadarannya tentang diri Allah, berarti ia telah sampai ke tingkat ittihad, bersatu dengan Allah. Akhirnya keluarlah ungkapan-ungkapan ganjil dari seseorang yang telah kasmaran dengan Allah ini. Seperti ungkapan Abu Yazid Al-Bustami:
"Aku adalah Engkau, Engkau adalah Aku
Melalui diri-Nya, aku berkata: Hai Aku". [hafana-des 2010]
           

Kamis, 26 April 2012

Cara Memperbanyak pengunjung Blog (Tips SEO)

Silahkan pelajari dengan baik lalu anda terapkan dengan benar....

Ada kata bijak yang mengatakan "Honesty is The Best Policy (Kejujuran adalah politik/strategi terbaik)", mari kita buktikan....apakah konsep kejujuran disini dapat kita gunakan untuk menghasilkan traffic dan popularity yang sangat hebat dari sebuah metode rumit para expert webmaster atau pakar SEO..?...

Saya percaya kita bisa asal metode ini anda terapkan dengan benar...,apabila ini di aplikasikan pada web/blog anda sesuai ketentuan maka:

* Blog anda akan kebanjiran traffic pengunjung secara luar biasa hari demi hari, tanpa anda harus repot-repot memikirkan SEO atau capek-capek melakukan promosi keberbagai tempat di dunia online.

* Blog anda juga akan kebanjiran backlink secara signifikan hari demi hari, tanpa perlu repot-repot berburu link keberbagai tempat di dunia internet.

Hal yang harus anda lakukan adalah ikuti langkah-langkah berikut :

1. Buatlah postingan artikel seperti posting saya ini, atau copy-paste artikel ini. Lalu beri Judul sesuka anda (karena itu merupakan SEO buat web/blog anda sendiri).

2. Anda cukup hanya meletakkan Link-Link di bawah ini pada artikel anda tersebut pada blog/web anda.

1. Google.com
2. Bisnis Online
3. Panduan belajar Wordpress
4. Friendster
5. Kapan lagi.com
6. Lirik Music Luar
7. Free Template
8. Jogja-Blogger
9. Tutorial Blogging | Internet Bisnis Online
10. pVidia Blog
11. Mrs.Danielo
12. www.moccainside.co.cc
13. www.mymot-news.blogspot.com
14. http://detektif007.blogspot.com/
15. http://indexbisnis.blogspot.com/


PERATURAN :

1. Sebelum anda meletakkan Link-Link tersebut ditas ke dalam postingan web/blog anda, harap hapus Link nomor 1 , Sehingga link no 1 hilang dari daftar link dan setiap link anda naikkan 1 level ke atas. Yang tadinya no 2 naik menjadi no 1, yang tadinya no 3 menjadi no 2, yang tadinya no 4 menjadi no 3 dan begitu seterusnya. Setelah itu masukkan Link anda pada urutan Paling bawah ( no 15 ).

2. Ingat!!! Jangan Merubah Urutan daftar link

Apabila setiap blogger yang ikut dalam metode ini berhasil diduplikasi oleh blogger lain yang akan bergabung, andaikan 5 blogger yang bergabung maka Backlink yang anda dapat adalah

Ketika posisi anda 15, jumlah backlink = 1
Posisi 14, jml backlink = 5
Posisi 13, jml backlink = 25
Posisi 12, jml backlink = 125
Posisi 11, jml backlink = 625
Posisi 10, jml backlink = 3.125
Posisi 9, jml backlink = 15.625
Posisi 8, jml backlink = 78.125
Posisi 7, jml backlink = 390.625
Posisi 6, jml backlink = 1.953.125
Posisi 5, jml backlink = 9.765.625
Posisi 4, jml backlink = 48.828.125
Posisi 3, jml backlink = 244.140.625
Posisi 2, jml backlink = 1.220.703.125
Posisi 1, jml backlink = 6.103.515.625

Dan semua Dari kata kunci yang anda inginkan, bayangkan jika ini bisa berjalan dengan sempurna maka anda akan memperoleh 6.103.515.625 external link yang berasal dari berbagai blog yang anda tidak akan pernah bayangkan sebelumnya. Belum lagi apabila ada pengunjung blog anda dari Link List tersebut diatas maka otomatis anda akan memperoleh traffic ke web/blog anda juga.

Ingat!!! Aturuan mainnya, Anda harus memulai dari urutan paling bawah (no 15) sehingga hasil backlink anda bisa Maksimal. Jangan salahkan saya apabila anda tidak mengikuti metode ini dengan benar dan Link anda tiba-tiba berada pada urutan no 1 dan menghilang pada Link daftar. Jadi mulai lah pada urutan paling bawah(no 15).
Bisakah Anda melakukan tindakan tidak fair atau tidak jujur dengan menyabotase metode ini, misalkan saja "menghilangkan semua link asal" lalu di isi dengan link web/blog anda sendiri...? .... Bisa!!! dan metode ini menjadi tidak maksimal. Kejujuran adalah strategi/politik terbaik.....Tapi saya yakin bahwa kita semua tak ingin menjatuhkan kredibilitas diri sendiri dengan melakukan tindakan murahan seperti itu...