Sabtu, 14 April 2012

Peserta Didik

  1. Pendahuluan
Pendidikan bagi kehidupan umat manusia merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa pendidikan sama sekali mustahil suatu kelompok manusia dapat hidup berkembang sejalan dengan aspirasi (cita-cita) untukmaju, sejahtera danbahagia.
Segera setelah anak dilahirkan dan sebelum dilahirkan sudah terjadi proses belajar pada diri anak, hasil yang diperolehnya adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan serta pemenuhan kebutuhannya. Oleh sebab itulah pendidikan dapat disebut sebagaibudayanyamanusia.
Di samping itu, pendidikan juga diakui sebagai suatu usaha untuk menumbuhkan serta mengembangkan potensi ke arah yang positif. Pendidikan bukan semata-mata mengembangkan ranah kognitif tetapi harus pula mengembangkan ranah afektif dan psikomotorik. Dalam arti konkret pendidikan harus mengembangkan pengetahuan, kepribadian dan keterampilan. Justru itu menurut Noeng Muhadjir, pendidikan meliputi aktivitas interaktif antara pendidik dan subyek didik untuk mencapai tujuan baik dengan cara baik dan dalam konteks yang positif. Artinya suatu program pendidikan harus mengimplisitkan nilai (value) di dalamnya.









    II.            Pembahasan

A.       Pengertian Peserta Didik
Peserta didik salah satu komponen dalam pendidikan Islam. Peserta didik merupakan “raw material”  (bahan mentah) di dalam proses transformasi yang disebut pendidikan. Berbeda dengan komponen-komponen lain dalam sistem pendidikan karena kita menerima “materil” ini sudah setengah jadi, sedangkan komponene-komponen lain dapat dirumuskan dan disusun sesuai dengan keadaan fasilitas dan kebutuhan yang ada.[1]
Peserta didik formal adalah orang yang sedang berada pada fase pertumbuhan dan perkembangan baik secara fisik maupun psikis, pertumbuhan dan perkembangan merupakan cirri dari seseorang peserta didik yang perlu bimbingan dari seorang pendidik. Pertumbuhan menyangkkut fisik, perkembangan menyangkut psikis.[2]
Menurut pasal 1 ayat 4 UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, P eserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui prases pendidikan  pada jalur jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Syamsul Nizar[3] mendeskripsikan lima kriteria peserta didik :
1)   Peserta didik bukanlah miniature orang dewasa tetapi memiliki dunianya sendiri.
2)   Peserta didik memiliki pperiodisasi perkebangan dan pertumbuhan .
3)   Peserta didik adalah makhluk Allah yang memiliki perbedaan individu baik disebabkan oleh factor bawaan maupun lingkungan dimana ia berada.
4)   Peserta didik merupakan dua unsure utama jasmani dan rohaniunsur jasmani memiliki daya fisik dan unsure rohani memiliki daya akal hati, nurani dan nafsu.
5)   Peserta didik adalah manusia yang memiliki potensi atau fitrah  yang dikembangkan dan berkembang secara dinamis.
Di dalam proses pendidikan peserta didik di samping sebagai objek juga sebagai subjek. Oleh karena itu agar seorang pendidik berhasil dalam proses pendidikan, maka ia harus memhami peserta didik dengan segala karakteristiknya. Diantara aspek yang harus dipahami oleh pendidik yaitu : (1) kebutuhannya, (2) dimensi-dimensinya, (3) intelegensinya, (4) kepribadiannya.[4]
B.            Kebutuhan Peserta Didik
Banyak kebutuhan peserta didik yang harus dipenuhi oleh peserta didik, diantaranya :
1)         Kebutuhan Fisik
Fisik peserta didik mengalami pertumbuhan fisik yang cepat terutama pada masa pubertas. Kebutuhan biologis, yaitu berupa makan, minum, istirahat, dimana hal ini menuntut peserta didik untuk memenuhinya. Peserta didik remaja lebih banyak porsi makannya dibandingkan anak-anak, dan orang dewasa atau tua. Dengan adanya kebiasaan hidup bersih dan olahraga secara teratur dapat membantu menjaga kesehatan perkembangan tubuh peserta didik.
2)      Kebutuhan Sosial
Kebutuhan social yaitu kebutuhan langasung dengan masyarakat agar peserta didik dapat berinteraksi  dengan masyarakat lingkungannya, seperti diterima oleh teman-temannya secara wajar. Begitu juga supaya dapat diterima ole orang lebih tinggi dari dia seperti orang tuanya, guru-gurunya, dan pemimpin-pemimpinnya.
3)      Kebutuhan untuk mendapatkan status
Peserta didik terutama pada usia remaja membutuhkan suatu yang menjadikan dirinya berguna bagi masyarakat. Kebanggaan terhadap diri sendiri, baik dalam linngkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Peserta didik juga butuh  kebanggaan untuk diterima dan dikenal sebagai individu yang berarti dalam kelompok teman sebayanya, karena penerimaan dan dibanggakan kelompok sangat penting bagi peserta didik dalam mencari identitas diri dan kemandirian.[5]
4)      Kebutuhan Mandiri
Peserta didik pada usia remaja ingin lepas dari batasan-batasan atau aturan dari orang tuanya dan mencoba untuk mengarahkan mendisiplinkan dirinya sendiri. Ia ingin bebas dari perlakuan orang tuanya yang terkadang terlalu berlebihan dan terkesan sering mencampuri urusan mereka yang menurut mereka bisa diatasi sendiri. Walaupun satu waktu mereka masih menginginkan bantuan orang tua.[6]
C.    Dimensi-Dimensi Peserta Didik
1.      Dimensi Fisik (Jasmani)
Menurut Widodo Supriyono, manusia meruakan makhluk multidemonsional yang berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya. Secar garis besar ia membagi manusia pada dua dimensi yaitu dimensi fisik dan rohani. Secara rohani, manusia mempunyai potensi kerohanian yang tak terhingga banyaknya. Potensi-potensi tersebut Nampak dalam bbentuk memahami sesuatu (ulil albab), dapat berpikir/merenung, mempergunakan akal dll.[7]
Zakiah Drajat,[8] membagi manusia pada tujuh dimensi pokok yang masing-masing dapat dibagi kepada dimensi-dimensi kecil. Ketujuh dimensi tersebut adalah : dimensi fisik, akal, agama, akhlak, kejiwaan, rasa keindahan dan social kemasyarakatan.[9] Semua dimensi tersebut harus ditumbuh kembangkan melaui pendidikan Islam.


a.       Pendidikan Fisik (Jasmani)
Fisik atau jasmani terdiri atas organism fisik. Organism fisik manusia lebih sempurna dibandingkan dengan oraganisme-organisme makhluk-makhluk yang lainnya. Pada dimensi ini, proses penciptaan manusia proses pencitaan manusia memiliki kesamaan dengan hewan ataupun tumbuhan, sebab semuanya bagian dari alam. Setiap alam biotik, memiliki unsure material yang sama, yakni terbuat dari unsure tanah, api, udara, dan air. Hasil penelitian membuktikan bahwa jasad manusia tersusun dari sel-sel berbentuk dari bagian-bagian yang disebut organel yang tersusun dari molekul-molekul senyawa unsure-unsur kimiawi yang terdapat di bumi. Namun manusia merupakan makhluk biotic yang unsure-unsur pembentukan materialnya bersifat professional antara keempat unsure tersebut sehingga manusia disebut sebagai makkhluk yang sempurna dan terbaik ciptaannya.
Firman Allah :
ôs)s9 $uZø)n=y{ z`»|¡SM}$# þÎû Ç`|¡ômr& 5OƒÈqø)s? ÇÍÈ  
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (Q.S. al-Tin : 4)
Keempat unsur-unsur di atas merupakan materi yang abiotik (tidak hidup). Ia akan hidup jika diberi energy kehidupan yang bersifat fisik (thaqat al-jismiyah). Energy kehidupan ini lazimnya disebut nyawa. Karena nyawa manusia hidup. Ibnu Maskawih menyebut energy tersebut dengan al-hayat (daya hidup).[10]
Sedangkan al-Ghazali menyebutnya dengan ruh jasmaniyah (ruh material), daya hidup ini merupakan vitalitas ini tergantung sekali pada konstruksi fisik seperti susunan sel, fungsi kelenjarm pencernaan dan sebagainya.

D.    Intelegensi Peserta Didik
Intelegensi (kecerdasan) dalam bahasa inggris disebut intelligence dan bahasa Arab disebut al-dzaka menurut arti bahasa adalah pemahaman, kecepatan dan kesempurnaan sesuatu. Dalam arti kemampuan (al-qudrah) dalam memahami segala sesuatu dengan cepat dan sempurna.[11]
Crow and Crow, mengemukakan bahwa intellegensi berarti kapasitas dari seorang individu yang dapat dilihat pada kesangggupan pikiran dalam mengatasi tuntutan kebutuhan-kebutuhan baik keadaan rohaniah secara umum yang dapat disesuaikan dengan problem-problem dan kondisi baru dalam kehidupan. Pengertian ini tidak menyangkut dalam dunia akademik, tetapi luas, menyangkut kehidupan non-akademik, seperti masalah-masalah artistic dan tingkah laku social.[12]
Pada mulanya, kecerdasan hanya berkaitan dengan kemampuan struktur akal (intelect) dalam menangkap gejala sesuatu, sehingga kecerdasan hanya bersentuhan dengan aspek-aspek kognitif (al-majal al-ma’rifi). Namun pada perkembangan berikutnya, disadari bahwa kehidupan manusia bukan semata-mata memenuhi struktur akal, melainkan terdapat struktur kalbu yang perlu tempat tersendiri untuk menumbuhkan aspek-aspek efektif (al-infi’ali), seperti kehidupan emosional, moral, spiritual dan agama. Pada saat ini pemahaman kecerdasan itu sudah berkembang  diantaranya : (1)  kecerdasan intelektual, (2) kecerdasan emosional, (3) kecerdasan spiritual, dan kecerdasan kalbu. Semua jenis kecedasan ini perlu dikembangkan dalam pendidikan Islam.[13]
E.  Kepribadian Peserta Didik
1.                   Pengertian kepribadian dan cirri-cirinya
Menurut para ahli pengertian kepribadian adalah sebagai berikut :
a)    Allport, mendefinisikan kepribadian adalah: “Susunan yang dinamis didalam sistem psiko-fisik (jasmani-rohani) seorang individu menentukan perilaku dan pikirannya yang berciri khusus”.
b)   Menurut W. Stern kepribadian adalah: “suatu kesatuan banyak (Unita multi compleks) yang diarahkan pada tujuan-tujuan tertentu dan
c)    Hartmann mendefinisikan kepribadian berupa, “susunan yang terintegrasikan dalam corak khas yang tegas yang diperhatikan kepada orang lain.”
Dari seluruh definisi yang telah dikemukakan diatas Wheterington menyimpulkan bahwa kepribadian mempunyai cirri-ciri sebagai berikut :
a)    Manusia karena keturunannya pertama sekali hanya merupakan individu dan kemudian barulah merupakan suatu pribadi karena pengaruh belajar dan lingkungan sosialnya.
b)   Kepribadian adalah istilah untuk menyebutkan tingkah laku seseorang secara terintegrasi dan bukan hanya beberapa aspek saja dari keseluruhan itu.
c)    Kata kepribadian menyatakan pengertian tertentu saja yang ada pada pikiran orang lain dan isi pikiran itu ditentukan oleh nilai perangsang social seseorang.
d)   Kepribadian tidak menyatakan sesuatu yang bersifat statis, seperti bentuk badan atau ras tetapi menyertakan keseluruhan dan kesatuan dari tingkah laku sesorang.[14]
Untuk mengantisipasi  teori psikologi Barat tersebut Fadhil al-Djamaly,[15] menggambarkan kepribadian muslim sebagai muslim yang berbudaya, yang hidup bersama Allah dalam tingkah laku hidupnya, dan tanpa akhir ketinggiannya. Dia hidup dalam lingkungan yang lebih luas tanpa batas kedalamnya, dan tanpa akhir ketinggiannya. Dia mampu menangkap makna ayat yang menyatakan:
Dalam firman Allah yang artinya :
“ …. Aku akan menunjukkan kepada mereka tanda-tanda kebesaran-Ku di ufuk langit dan di dalam dirinya sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Allah itu benar.” (Hamim al-Sajadah : 41)
Kepribadian muslim seperti digambarkan di atas mempunyai hubungan yang erat dalam suatu lingkaran hubungan yang meliputi : (1) Allah, (2) Alam, (3) Manusia.
2.    Macam-Macam Kepribadian Muslim
Berangkat dari kepribadian muslim di atas, maka kita dapat membagi kepribadian muslim tersebut kepada dua macam yaitu :
(1)   Kepribadian kemanusiaan (basyariah), dan
(2)   Kepribadian kewahyuan (samawi)
(1)   Kepribadian kemanusiaan dibagi kepada dua bagian yaitu :
a.       Kepribadian individu; yang meliputi cirri khas seseorang dalam bentuk sikap dan tingkah laku serta intelektual yang dimiliki masing-masing secara khas sehingga ia berbeda dengan orang lain.
Firman Allah SWT :
Artinya:
“Perhatikanlah bagaimana kami lebihkan mereka sebagian atas sebagian.” (Q.S. Bani Israil: 122)
b.      Kepribadian ummah; yang meliputi cirri khas kepribadian muslim sebagai suatu ummah (bangsa/negara) muslim yang meliputi sikap dan tingkah laku ummah muslim yang berbeda dengan ummah lainnya, memiliki cirri khas kelompok dan memiliki kemampuan untuk mempertahankan identitas tersebut dari pengaruh luar, baik ideology maupun lainnya yang dapat member dampak negative.
Firman Allah SWT :
Artinya:
“kami jadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa supaya saling kenal-mengenal… (Q.S. Al-Hujurat: 30).
(2)   Kepribadian samawi (kewahyuan) yaitu corak kepribadian yang dibentuk melalui petunjuk wahyu dalam kitab suci al-qur’an, yang antara lain difirmankan Allah sebagai berikut :
Artinya:
“dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain karena jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalannya, yang demikian itu diperintahkan Allah kepada kamu agar kamu bertaqwa.”
F.     Etika Peserta Didik
Etika peserta didik merupakan suatu yang harus dilaksanakan dalam proses pembelajaran baik secara langsung maupun tidak langsung, al-Ghazali merumuskan ada beberapa kewajiban peserta didik, diantaranya:
1)   Belajar dengan niat ibadah dengan niat taqarub kepada Allah, sehingga dalam kehidupan sehari-hari anak didik dituntut untuk mensucikan dirinya dari akhlak yang rendah dan watak yang tercela (QS. 51:56, 6”163)
2)   Mengurangi kecendrungan pada duniawi dibandingkan dengan masalah ukhrawi (QS. 93:4)
3)   Bersikap tawadhu’ dengan cara meninggalkan kepentingan pribadi untuk kepentingan pendidikannya.
4)   Menjaga pikiran dan pertentangan yang timbul dari berbaai aliran
5)   Mempelajari ilmu-ilmu yang terpuji, baik unntuk ukhrawi maupun duniawi.[16]
Sementara itu  Asma Hasan Fahmi mengemukakan etika yang harus diketahui, dimiliki serta dipahami oleh peserta didik supaya dia dapat belajar dengan baik dan dapat keredaan dari Allah SWT.

1)   Peserta didik hendaknya membersihkan hatinya sebelum menuntut ilmu.
2)   Tujuan belajar hendaknya ditujukan untuk menghiasi roh dengan berbagai sikap keutamaan.
3)   Memiliki kemauan yang kuat untuk mencari dan menuntut ilmu diberbagai tempat.
4)   Setiap peserta didik wajib menghormati pendidiknya.
5)   Peserta didik hendaknya belajar secara sungguh-sungguh dan tabah.

  1. Penutup dan Kesimpulan
Peserta didik formal adalah orang yang sedang berada pada fase pertumbuhan dan perkembangan baik secara fisik maupun psikis, pertumbuhan dan perkembangan merupakan cirri dari seseorang peserta didik yang perlu bimbingan dari seorang pendidik. Pertumbuhan menyangkkut fisik, perkembangan menyangkut psikis.
Di dalam proses pendidikan peserta didik di samping sebagai objek juga sebagai subjek. Oleh karena itu agar seorang pendidik berhasil dalam proses pendidikan, maka ia harus memhami peserta didik dengan segala karakteristiknya. Diantara aspek yang harus dipahami oleh pendidik yaitu : (1) kebutuhannya, (2) dimensi-dimensinya, (3) intelegensinya, (4) kepribadiannya.
DAFTAR PUSTAKA
al-Djamily, Fadhil, dalam M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta: Bumi Aksara, 1991).
Drajat, Zakiah, Pendidikan Islam dalam keluarga dan sekolah, (Jakarta: Ruhama).
Seregar, Marasudin, pendidikan Ibnu Khaldun, suatu analisa fenomenologi, (Jogyakarta : Pustaka Pelajar)
Muhibbin syah, Psikologi Pendidikan, Suatu Pendekatan Baru, (Bandung: remaja rosda karya, 1995).
Muhibbin syah, psikologi pendidikan, suatu pendekatan baru, (Bandung: remaja rosda karya, 1995), hlm. 665.
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002)

Widodo Supriyono, Filsafat Manusia dalam Islam, Reformasi Filsafat Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996)




           



[1] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, hlm. 77.
[2] Ibid,
[3] Ibid,
[4] Ibid,
[5] Ibid, hlm. 79
                                                         
[6] Ibid,
[7] Widodo Supriyono, Filsafat Manusia dalam Islam, Reformasi Filsafat Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), hlm. 179-181.
[8] Zakiah Drajat, Pendidikan Islam dalam keluarga dan sekolah, (Jakarta: Ruhama).
[9] Marasudin seregar, konsepsi pendidikan Ibnu Khaldun, suatu analisa fenomenologi, (Jogyakarta : Pustaka Pelajar), hlm. 80
[10] Muhibbin syah, psikologi pendidikan, suatu pendekatan baru, (Bandung: remaja rosda karya, 1995), hlm. 665.
[11] Lok. Cit. Ramayulis, hlm. 96-97.
[12] Ibid,
[13] Ibid,
[14] Ibid, hlm. 110.
[15] Fadhil al-Djamily, dalam M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hlm. 170.
[16] Abdul Mujib dalam Ramayulis, Psikologi Agama, (Jakarta: Kalam Mulia, 2004) hlm. 98

0 komentar:

Poskan Komentar