Minggu, 15 April 2012

Pengembangan Kurikulum

Pendahuluan
       Puji dan syukur dengan hati dan pikiran yang jernih dipersembahkan ke hadirat Allah SWT, karena dengan taufik dan hidayah-Nya, penulis dapat mempersembahkan makalah ini yang berisikan tentang pengembangan kurikulum ke hadapan para pembaca yang budiman.
       Shalawat dan salam tidak lupa disampaikan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, yang telah membawa ummat menuju jalan kebahagian di dunia dan akhirat melalui serangkaian dakwah dan pendidikan yang dilakukannya tanpa mengenal.
       Sebenarnya ada tiga kegiatan yang satu dengan yang lain saling terkait, yaitu: perencanaan, pembinaan, kemudian pengembangan, kembali lagi perencanaan yang lebih laik, dibina dan dikembangkan lagi, begitu seterusnya.
       Pada dasarnya pengembangan kurikulum ialah mengarahkan kurikulum sekarang ke tujuan pendidikan yang diharapkan karena adanya berbagai pengaruh yang sifatnya positif yang datangnya dari luar atau dalam sendiri, dengan harapan agar peserta didik dapat menghadapi masa depannya dengan baik. Oleh karena itu pengembangan kurikulum hendaknya bersifat antisipatif, adaptif, dan aplikatif. Antisipatif dalam pengembangan kurikulum dapat diarahkan ke hal-hal jangka pendek dan jangka panjang, seperti pada pengarahan pelita I, II, III dan seterusnya dan PJPT II,III dan seterusnya.
       Situasi masyarakat sekarang dan yang akan datang dapat diantisipasi diantaranya sebagai berikut : perubahan dari masyarakat agraris ke indrusti; pengembangan ; Pengembangan IPTEKS; pengangguran intelek dan terbatasnya lapangan kerja, masyarakat yang kompleks tetapi bersifat individualistis, pengaruh globalisasi dan adanya revolusi arus informasi dan sebagainya.
       Pada era pembangunan seperti sekarang ini, pengembangan kurikulum hendaknya memperhatikan link and match antara out put dengan lapangan kerja yang diperlukan. Untuk mencapai harapan terlaksananya tidaklah mudah. Kita harus mengetahui gap antara das sem dan das Sollen, antara kenyataan dengan harapan, antara saya dapat dengan saya ingin. Kita ingin biasanya bersifat sangat ideal dan sulit dicapai. Untuk dapat pencapaian harapan mampu dicapai itupun perlu adanya berbagai faktor yang mendukung dan program yang aplikabel.
       Perlu disadari bahwa penulis makalah ini akan membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan kurikulum yang meliputi prinsip-prinsip kurikulum, baik prinsip umum maupun khusus, pengembang kurikulum, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kurikulum, artikulasi dan hambatan pengembangan kurikulum, dan yang terakhir adalah model-model perkembangan kurikulum. Harapan dari penulis semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.


II.               Pembahasan
  1. Pengembangan kurikulum
A.     Prinsip-Prinsip Kurikulum
Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang merangkum semua pengalaman belajar yang disediakan bagi siswa di sekolah. Dalam kurikulum terintergasi filsafat, nilai-nilai, pengetahuan, dan perbuatan pendidikan. Kurikulum disusun oleh para ahli pendidikan/ahli kurikulum, ahli bidang ilmu, pendidik, pejabat pendidikan, pengusaha serta unsur-unsur masyarakat yang lainnya. Rancangan ini disusun dengan dengan maksud memberi pedoman kepada para pelaksana pendidikan, dalam proses pembibingan perkembagan siswa, mencapai tujuan yang dicita-citakan oleh siswa sendiri, keluarga, maupun masyarakat.
Kelas merupakan tempat untuk melaksanakan dan menguji kurikulum. Di sana semua konsep, prinsip, nilai, pengetahuan, metode, alat, dan kemampuan guru diuji dalam bentuk perbuatan, yang akan mewujudkan bentuk kurikulum yang nyata dan hidup. Pewujudan konsep, prinsip, dan aspek-aspek kurikulum tersebut seluruhnya terletak pada guru. Oleh karena itu, gurulah yang pemegang kunci pelaksanaan dan keberhasilan kurikulum. Dialah sebenarnya perencana, pelakasana, penilai, dan pengembang kurikulun sesungguhnya. Suatu kurikulum diharapkan memberikan landasan, isi, dan, menjadi pedoman bagi pengembangan kemampuan siswa secara optimal sesuai dengan tuntutan dan tantangan perkembangan masyarakat.
  1. Prinsip-prinsip umum
Ada beberapa prinsip umum dalam pengembangan kurikulum.
1)      Prinsip relevansi.
Ada dua macam relevansi yang harus dimiliki kurikulum, yaitu relevan ke luar dan relevansi di dalam kurikulum itu sendiri. Relevansi ke luar maksudnya tujuan, isi, dan proses belajar yang tercakup dalam kurikulum hendaknya relevan dengan tuntutan, kenutuhan, dan perkembangan masyarakat.
2)      Prinsip fleksibilitas, Artinya kurikulum hendaknya memilih sifat lentur atau fleksibel.
3)      Prinsip kontiunitas yaitu kesinambungan. Perkembangan dan proses belajar anak berlangsung secara berkesinambungan, tidak terputus-putus atau berhenti- henti.
4)      Prinsip praktis, Artinya mudah dilaksanakan, menggunakan alat-alat sederhana dan biayanya juga murah. Prinsip ini juga disebut efisiensi.
5)      Prinsip efektifitas. Walaupun kurikulum tersebut harus murah, sederhana, dan murah tetapi keberhasilannya tetap harus diperhatikan. Keberhasilan pelaksanaan kurikulum ini baik secara kuantitas maupun kualitas[1].
  1. Prinsip-prinsip khusus
Ada beberapa prinsip yang lebih khusus dalam pengembangan kurikulum. Prinsip-prinsip ini berkenaan dengan penyusunan tujuan, isi, pengalaman belajar, dan penilaian.
1)      Prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan
Tujuan menjadi pusat kegiatan dan arah semua kegiatan pendidikan. Perumusan komponen-komponen kurikulum hendaknya mengacu pada tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan mencakup tujuan yang bersifat umum atau berjangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek (tujuan khusus).
2)      Prinsip berkenaan dengan pemilihan pendidikan
Memilih isi pendidikan yang sesuai dengan  kebutuhan pendidikan yang telah ditentukan para perencana kurikulum.
3)      Prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar
4)      Prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pengajaran
Proses belajar-mengajar yang baik perlu didukung oleh penggunaan media dan alat-alat bantu pengajaran yang tepat.
5)      Prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian.
  1. Pengembang Kurikulum
Dalam mengembangkan suatu kurikulum banyak pihak yang turut berpartisipasi, yaitu: adaministrator pendidikan, ahli pendidikan, ahlikurikulum, ahli bidang ilmu pengetahuan, guru-guru, dan orang tua murid serta tokoh-tokoh masyarakat. Dari pihak-pihak tersebut yang secara terus-menerus turut terlibat dalam pengembangan kurikulum adalah: administrator, guru, dan orang tua.
1)      Peranan para administrator pendidikan
Para administrator pendidikan ini terdiri atas: direktur bidang pendidikan, pusat pengembangan kurikulum, kepala kantor kabupaten dan kecamatan serta kepala sekolah. Peranan para adiministrator di tingkat pusat (direktur dan kepala pusat) dalam pengembangan kurikulum adalah menyusun dasar-dasar hukum, menyusun kerangka dasar serta program inti kurikulum. Kerangka dasar dan program inti tersebut akan menentukan minimum course yang dituntut.
2)      Peranan para ahli
Partisipasi para ahli pendidikan dan ahli kurikulum terutama sangat dibutuhkan dalam pengembangan kurikulum pada tingkat pusat. Apabila pengembangan kurikulum sudah banyak dilakukan pada tingkat daerah atau local, maka partisipasi mereka pada tingkat daerah, lokal bahkan sekolah juga sangat diperlukan, sebab apa yang telah digariskan pada tingkat pusat belum tentu dapat dengan mudah dipahami oleh para pengembang dan pelaksana kurikulum di daerah.
3)      Peranan guru
Peranan guru bukan hanya menilai prilaku dan prestasi belajar murid-murid dalam kelas, tetapi juga menilai implementasi kurikulum dalam lingkup yang lebih luas. Guru juga bukan hanya berperan sebagai guru di dalam kelas, ia juga seorang komonitator, pendorong kegiatan belajar, pengembang alat-alat belajar, pencoba, penyusunan organisasi, manajer sistem pengajaran, pembimbing baik di sekolah maupun di masyarakat dalam hubungannya dengan pelaksanaan pendidikan seumur hidup.
Guru juga berperan sebagai pelajar dalam masyarakatnya, sebab ia harus selalu belajar struktur sosial masyarakat, nilai-nilai utama masyarakat, pola-pola tingkah laku dalam masyarakat. Hal-hal di atas diperlukan untuk mempersiapkan guru dalam berbagai situasi dan kegiatan pendidikan.
4)      Peranan orang tua murid
Orang tua juga mempunyai peranan dalam pengembangan kurikulum. Peranan mereka dapat berkenaan dengan dua hal: pertama dalam penyusunan kurikulum dan kedua dalam pelaksanaan kurikulum. Dalam pelaksanaan kurikulum diperlukan kerja sama yang sangat erat antara guru atau sekolah dengan para orang tua murid.[2]
  1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kurikulum
Sekolah mendapatkan pengaruh dari kekuatan-kekuatan yang ada dalam masyarakat, terurama dari perguruan tinggi dan masyarakat.
  1. Perguruan tinggi
Kurikulum minimal mendapat dua pengaruh dari perguruan Tinggi.
1)      Pengaruh dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan di perguruan tinggi umum.
2)      Pengaruh dari pengembangan ilmu pendidikan dan keguruan serta penyiapan guru-guru di Perguruan tinggi Keguruan (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan). Telah diuraikan terdahulu bahwa pengetahuan dan teknologi banyak memberikan sumbangan bagi isi kurikulum serta proses pembelajaran.
  1. Masyarakat
Sekolah merupakan bagian dari masyarakat dan mempersipkan anak untuk kehidupan di masyarakat. Sebagai bagian dan agen dari mayarakat, sekolah sangat dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat di mana sekolah tersebut berada.
Isi kurikulum hendaknya mencerminkan kondisi dan dapat memenuhi tuntutan dan kebutuhan masyarakat di sekitarnya. Masyarakat yang ada di sekitar sekolah mungkin merupakan masyarakat homogen atau hetogren masyarakat kota atau desa.
  1. Sistem nilai
Dalam kehidupan masyarakat terdapat sistem nilai, baik nilai moral, kegamaan, sosial, budaya, maupun nilai politis. Sekolah sebagai lembaga masyarakat juga bertanggung jawab dalam pemiliharaan dan penerusan nilai-nilai. sistem nilai yang akan dipelihara dan diteruskan tersebut harus terintegrasikan dalam kurikulum. Masalah utama yang dihadapi para pengembang kurikulum menghadapi nilai ini adalah, bahwa dalam masyarakat nilai itu tidak hanya satu.
       Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan guru dalam mengajarkan nilai:
(1)   guru hendaknya mengetahui dan memperhatikan semua nilai yang ada dalam masyarakat,
(2)   guru hendaknya berpegang pada prinsip demokrasi, etis, dan moral,
(3)   guru berusaha menjadikan dirinya sebagai teladan yang patut ditiru,
(4)   guru menghargai nilai-nilai kelompok lain,
(5)   memahami dan menerima keragaman kebudayaan sendiri.
  1. Artikulasi dan Hambatan pengembangan Kurikulum
Artikulasi dalam pendidikan berarti “kesatupaduan dan koordinasi segala pengalaman belajar’. Untuk merealisasikan artikulasi kurikulum, perlu meniliti kurikulum secara menyeluruh, membuang hal-hal yang tidak diperlukan, menghilangkan duplikasi, merivisi metode serta isi pengajaran, mengusahakan perluasan dan kesinambungan kurikulum. Bila artikulasi dilaksanakan dengan baik akan terwujud kesinambungan pengalaman belajar sejak TK sampai Perguruan Tinggi, juga antara satu bidang studi dengan studi bidang lainnnya secara horizontal. Tanpa artikulasi akan terdapat keragaman baik isi, metode maupun perhatian terdapat perkembangan anak.

Hambatan-hambatan kurikulum pengembangan kurikulum
       Dalam pengembangan kurikulum terdapat beberapa hambatan.
1)      Hambatan terletak pada gur, artinya guru kurang berpatisipasi dalam pengembangan kurikulum. Hal itu disebabkan beberapa hal. Pertama kurang waktu, kedua kekurangsesuaian pendapat, baik antara sesama guru maupun dengan kepala sekolah dan administrator. Ketiga karena kemampuan dan pengetahuan guru sendiri.
2)      Hambatan lain datang dari masyarakat. Untuk pengembangan kurikulum dibutuhkan dukungan masyarakat baik dalam pembiayaan maupun dalam memberikan umpan balik terhadap sistem pendidikan atau kurikulum yang sedang berjalan. Hambatan lain yang dihadapi oleh pengembang kurikulum adalah masalah biaya.[3]
  1. Model-Model Pengembangan Kurikulum
       Banyak model yang dapat digunakan pengembangan kurikulum. Pemilihan suatu model pengembangan kurikulum bukan saja didasarkan atas kelebihan dan kebaikan-kebaikannya serta kemungkinan pencapaian hasil yang optimal, tetapi juga perlu disesuaikan dengan sistem pendidikan dan sistem pengelolaan pendidikan yang dianut serta model konsep pendidikan mana yang digunakan. Model pengembangan kurikulum dalam sistem pendidikan dan pengelolaan yang sifatnya sentralisasi berbeda dengan yang desentralisasi. Model pengembangan dalam kurikulum yang sifatnya subjek akademis berbeda dengan kurikulum humanistik, teknologis dan rekontruksi sosial.
       Sekurang-kurangnya dikenal delapan model pengembangan kurikulum, yaitu: the adiministrative (line staff) model, the grass roots model, beauchamp’s system, the demonstration model, Taba’s inverted model, Roger’s interpersonal relation model, the systematic action research model dan emerging technical model.
  1. The administrative model
       Model pengembangan kurikulum ini merupakan model paling lama dan paling banyak dikenal. Diberi nama model administrative atau line staff karena inisiatif dan gagasan pengembangan datang dari para administrator pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi. Dengan wewenang administrasinya, administrator pendidikan (apakah dirjen, direktur atau kepala kantor wilayah pendidikan dan kebudayaan) membentuk suatu komisi atau tim ini terdiri atas, pejabat di bawahnya, para ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli disiplin ilmu, dan para tokoh dari dunia kerja dan perusahaan.
  1. The grass roots model
       Model pengembangan ini merupakan lawan dari model pertama. Inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum, bukan datang dari atas tetapi dari bawah, yaitu guru-guru atau sekolah.
       Model kurikulum yang pertama, digunakan dalam sistem pengelolaan pendidikan/ kurikulum yang bersifat sentralisasi, sedangkan model grass roots akan berkembang dalam sistem pendidikan bersifat desentralisasi.
  1. Beauchamp’s system
Model pengembangan kurikulum ini, dikembangkan oleh beauchamp seorang ahli kurikulum, Beauchamp mengemukakan lima hal di dalam pengembangan suatu kurikulum.
Pertama, menetapkan arena atau lingkup wilayah yang akan dicakup oleh kurikulum tersebut, apakah suatu sekolah, kecamatan, kabupaten, propinsi ataupun seluruh negara.
Kedua, menetapkan personalia, yaitu siapa-siapa yang turut serta terlibat dalam pengembangan kurikulum.
Ketiga, organisasi dan prosedur pengembangan kurikulum.
Keempat, implementasi kurikulum.
Langkah yang kelima dan merupakan terakhir adalah evaluasi kurikulum.
  1. The demonstration model
Model demonstrasi pada dasarnya bersifat grass roots, datang dari bawah. Menurut Smith, Stanley, dan Shores ada dua variasi model demonstrasi ini. Pertama, sekelompok guru dari satu sekolah atau beberapa sekolah ditunjuk untuk melaksanakan suatu percobaan tentang pengembangan kurikulum. Bentuk kedua, kurang bersifat normal.
Kelebihan Model demostrasi
a.       Karena, kurikulum disusun dan dilaksanakan dalam situasi tertentu yang nyata, maka akan dihasilkan suatu kurikulum atau aspek tertentu dari kurikulum yang lebih praktis.
b.      Perubahan atau penyempurnaan kurikulum dalam skala kecil atau aspek tertentu yang khusus, sedikit sekali untuk ditolak oleh administrator, dibandingkan dengan perubahan dan penyempurnaan yang menyeluruh.
c.       Pengembanagan kurikulum dalam skala kecil dengan model demostrasi dapat menembus hambatan yang sering dialami yaitu dokumentasinya bagus tetapi pelaksanaannya tidak ada.
d.      Keempat, model ini sifatnya yang grass roots menempatkan guru sebagai pengambil inisiatif dan nara sumber yang dapat menjadi pendorong bagi para administrator untuk mengembangkan program baru.
Kelemahan Model ini, adalah guru-guru yang tidak turut berpartisipasi mereka akan menerimanya dengan enggan-enggan, dalam keadaan terburuk mungkin akan terjadi apatisme.
  1. Taba’s inverted model
       Taba berpendapat model deduktif ini kurang cocok, sebab tidak merangsang timbulnya inovasi-inovasi. Menurutnya pengembangan kurikulum yang lebih mendorong inovasi dan kreativitas guru-guru adalah bersifat induktif, yang merupakan inverse atau arah terbalik dari model tradisional.
Ada lima langkah pengembangan kurikulum model taba ini,
  1. Mengadakan unit-unit eksperimen bersama guru-guru.
  2. Menguji unit eksperimen
  3. Mengadakan revisi dan konsolidasi.
  4. Pengembangan keseluruhan kerangka kurikulum.
  5. Implementasi dan diseminasi, yaitu menerapkan kurikulum baru ini pada daerah atau sekolah-sekolah yang lebih luas. Di dalam langkah ini masalah dan kesulitan-kesulitan pelaksanaan tetapi dihadapi, baik berkenaan dengan kesiapan guru-guru, fasilitas, alat dan bahan juga biaya.
  1. Roger’s interpersonal relations model
Ada empat langkah pengembangan kurikulum model Roger’s
a.       Pemilihan target dari sistem pendidikan
b.      Partisipasi guru dalam pengalaman kelompok yang intensif.
c.       Pengembangan pengalaman kelompokyang intensif untuk satu kelas atau unit pelajaran.
d.      Partisipasi orang tua dalam kegiatan kelompok.
       Model pengembangan kurikulum dari Roger’s ini berbeda dengan model-model lainnya. Seperti tidak ada sesuatu perencanaan kurikulum tertulis, yang ada hanyalah rangkaian kegaitan kelompok. Itulah cirri khas Carls Rogers sebagai seorang Eksistensialis Humanis, ia tidak mementingkan formalitas, rancangan tertulis, data, dan sebagainya. Bagi Roger’s yang penting adalah aktivitas dan interaksi.
  1. The systematic action-research model
       Model kurikulum ini didasarkan pada asumsi bahwa perkembangan kurikulum merupakan perubahan sosial.Kurikulum dikembangkan dalam konteks harapan warga masyarakat, para orang tua, tokoh masyarakat, pengusaha, siswa, guru, dan lain-lain, mempunyai pandangan tentang bagaimana pendidikan, bagaimana anak belajar, dan bagaimana peranan kurikulum dalam pendidikan dan pengajaran.
       Langkah untuk menggunakan model kurikulum ini antara lain :
a.       Mengadakan kajian secara seksama tentang masalah-masalah kurikulum, berupa pengumpulan data yang bersifat menyeluruh, dan mengidentifikasi faktor-faktor, kekuatan dan kondisi yang mempengaruhi masalah tersebut.
b.      Implementasi dari keputusan yang diambil dalam tindakan pertama.
  1. Emerging technical models
       Perkembangan bidang teknologi dan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai efisiensi efektifitas dalam bisnis, juga mempengaruhi perkembangan model-model kurikulum. Tumbuh kecenderungan-cenderungan baru yang didasarkan atas hal itu, di antaranya : (1) The Behavioral Analysis Model, (2) The system analysis model,(3) The computer based model.
(1)   The Bahavioral Analysis Model, menekankan penguasaan perilaku atau kemampuan.
(2)   The system Analysis Model berasal dari gerakan afisiensi bisnis. Langkah pertama dari model ini adalah menentukan spesifikasi perangkat hasil belajar yang harus dikuasai siswa. Langkah kedua menyusun instrument untuk menilai ketercapaian hasil-hasil belajar tersebut. Langkah ketiga, mengidentifasi tahap-tahap ketercapaian hasil serta perkiraan biaya yang diperlukan. Langkah keempat, membandingkan biaya dan keuntungan dari beberapa program pendidikan.
(3)   The computer-Based Model, suatu model pengembangan kurikulum dengan memanfaatkan komputer.[4]

III.           Kesimpulan
       Dari keterangan di atas dapat di simpulkan bahwa pada dasarnya pengembangan kurikulum ialah mengarahkan kurikulum sekarang ke tujuan pendidikan yang diharapkan karena adanya berbagai pengaruh yang sifatnya positif yang datangnya dari luar atau dalam sendiri, dengan harapan agar peserta didik dapat menghadapi masa depannya dengan baik. Dalam pengembangan kurikulum terdapat beberapa prinsip-prinsip, dan prinsip itu adalah prinsip umum, dan prinsip khusus. Juga terdapat pengembang kurikulum yang melibatkan administrator, guru, dan orang tua, dan yang lebih penting lagi ternyata dalam pengembangan kurikulum ini terdapat beberapa model pengembangan kurikulum, diantaranya adalah the adiministrative (line staff) model, the grass roots model, beauchamp’s system, the demonstration model, Taba’s inverted model, Roger’s interpersonal relation model, the systematic action research model dan emerging technical model.

Daftar pustaka
Sukmadinata  Nana Syaodih, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, Bandung :PT Remaja Rosdakarya, 2006.



[1]   Prof. Dr. Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2006, hlm, 150-151.

[2]   Ibid. hlm, 158.
[3]   Ibid. hlm, 158-161
[4]   Ibid. hlm, 161-170.

0 komentar:

Poskan Komentar