Sabtu, 14 April 2012

Kompenen desain pembelajaran

PEMBAHASAN

Kompenen desain pembelajaran
A.    Komponen materi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia materi adalah sesuatu yg menjadi bahan (untuk diujikan, dipikirkan, dibicarakan, dikarangkan, dsb)[1]. Ia merupakan bagian dari kandungan kurikulum yang merupkan salah satu komponen operasional pendidikan Islam. Sedangkan materi menurut istilah adalah bahan-bahan pelajaran yang disajikan dalam proses kependidikan dalam suatu sistem institusional[2].
Materi yang disajikan dalam proses pendidikan Islam, formal maupun nonformal adalah materi-materi yang diuraikan dari al Qur’an. Oleh karena itu materi-materi yang bersumber dari al Qur’an harus dihayati, dipahami, diyakini, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari oleh semua pemeluk agama Islam. Al Farabi mengklasifikasikan ilmu-ilmu yang bersumber dari al Qur’an meliputi sebagai berikut[3] :
1.    Ilmu bahasa
2.    Logika
3.    Sains persiapan terdiri dari ilmu berhitung, geometri, optika, sains tentang benda benda samawi seperti astronomi; ilmu pengukuran (timbangan), ilmu tentang pembuatan instrument-instrumen, dan sebagainya
4.    Fisika (ilmu alam) dan metafisika (ilmu tentang alam di balik alam nyata). Ilmu fisika terdiri dari berbagai jenis ilmu seperti ilmu-ilmu yang berkaitan dengan benda alam, dan elemen-elemennya, ciri-ciri dan hukum-hukumnya, serta faktor-faktor yang merusaknya, tentang reaksi unsur-unsur dalam benda atau sifat sifatnya yang membentuk benda itu, ilmu-ilmu mineral, tumbuh-tumbuhan, dan hewan.sedangkan yang merukan ilmu metafisika meliputi ilmu tentang hakikat benda, ilmu tentang sains khusus dan sains pengamatan, ilmu tentang benda yang tidak berjasad.
5.    Ilmu kemasyarakatan Menurut pandangan Prof. Dr. Mohammad Fadhil al-Djamali, semua jenis ilmu yang terkandung di dalam harus diajarkan kepada anak didik ilmu tersebut meliputi :Ilmu agama, Ilmu sejarah, Ilmu falak, Ilmu bumi, Ilmu jiwa, Ilmu kedokteran, Ilmu pertanian, Ilmu biologi, Ilmu hitung, Ilmu hukum, Ilmu perundang-undangan, Ilmu kemasyarakatan (sosiologi), Ilmu ekonomi, Ilmu Balaghah, ilmu bahasa arab, ilmu pembelaan Negara, dan segala ilmu yang dapat mengembangkan kehidupan umat manusia dan yang mempertinggi derajatnya[4].
Kurikulum sebagai suatu sistem yang sistematis harus mengandung idealitas al Qur’an yang tidak memilih jenis-jenis disiplin ilmu secara taksonomis dikotomik. Menurut Ibnu Sina dan al Farabi dan ikhwanusshofa kesempurnaan manusia tidak akan tercapai kecuali dengan terpenuhnya antara kebutuhan agama dan ilmu pengetahuan. Hal ini senada dengan pemikiran para ahli piker pendidikan Barat yang berpaham idealisme seperti yang dikemukakan oleh John S. Brubacher bahwa tolok ukur efektifitas suatu nilai dari sistem pendidikan adalah pada corak kepribadian seseorang, nilai-nilai tersebut membentuk karakter yang berkeadilan sosial, terampil dengan kemampuan menciptakan seni, memiliki perasaan cinta kasih, dan berilmu pengetahuan.
            Para ilmuwan muslim melakukan penelitian dalam mengklasifikasikan ilmu pengetahuan yang terkandung dalam al Qur’an untuk dituangkan dalam kurikulum sehingga  khasanah islam dalam ilmu pengetahuan makin bertambah. Ibnu Khaldun dalam Khaldun dalam kitabnya Muqaddam mengklasifikasikan ilmu pengetahuan yang terkandung dalam al Qur’an yaitu sebagai berikut :
1.      Ilmu pengetahuan filosofis dan intelektual
Semua ilmu pengetahuan dapat dipelajari oleh manusia melalui akal pikiran dan penalarannya yang bersifat alami, yang dibawa sejak lahir. Ilmu ini terdiri dari logika, ilmu alam atau fisika, medis, pertanian, metafisika (tentang ilmu tenun, sihir, jimat-jimat, yang tertulis dalam huruf alfabetis, dan alkemi) serta ilmu yang berkaitan dengan kuantitas, misalnya geometri dan aritmatika. Begitu pula ilmu music, astronomi, dan astrologi.
Namun demikian, ilmu-ilmu pengetahuan di atas tidak semua bisa dipelajari orang Islam, misalnya ilmu sihir, astrologi untuk meramal nasib, dan jimat-jimat merupakan ilmu pengetahuan yang tidak boleh dipelajari.
2.      Ilmu-ilmu pengetahuan yang disampaikan
Ilmu tersebut terdiri dari ilmu al Qur’an, tafsir, dan tajwid, ilmu hadist, ilmu fikih, teologi.
            Ibnu khaldun menetapkan tiga katagori ilmu pengetahuan Islam yang harus menjadi materi kurikulum sekolah yaitu sebagai berikut :
1.      Ilmu lisan yang terdiri atas ilmu nahwu, saraf, balaghah, ma’ani, bayan, adab, sastra atau syair-syair.
2.      Ilmu nakli yaitu ilmu-ilmu yang dinukil dari kitab suci al Qur’an dan sunah Nabi.ilmu terdiri atas ilmu membaca al Qur’an dan ilmu tafsir, sanad-sanad hadis.
3.      Ilmu akli yaitu ilmu yang didapat dari mengoptimalkan daya berpikir seseorang melalui filsafat dan semua jenis ilmu pengetahuan, termasuk ilmu mantiq, ilmu alam, ilmu ketuhanan, ilmu teknik, ilmu hitung, ilmu tentang tingkah laku manusia, ilmu sihir dan nujum (kedua ilmu ini terlarang untuk dijadikan mata pelajaran).
Bila ditinjau dari urgensinya ilmu pengetahuan dibagi menjadi 4 macam yaitu :
1.      Ilmu syariah dengan semua jenisnya
2.      Ilmu filsafat, termasuk ilmu alam dan ilmu pengetahuan.
3.      Ilmu alat yang bersifat membantu ilmu-ilmu agama, seperti ilmu lughah dan lain-lain.
4.      Ilmu alat yang membantu falsafah seperti ilmu mantik.
Menurut imam al Ghazali ilmu pengetahuan sebagai materi yang disampaikan kepada murid yang dicantumkan pada suatu kurikulum lembaga pendidikan harus diberisi hal sebagai berikut :
1.      Ilmu-ilmu fardlu ain yang wajib di pelajari oleh semua orang Islam meliputi ilmu-ilmu agama yakni ilmu yang bersumber dari dal kitab suci al Qur’an.
2.      Ilmu-ilmu yang merupakan fardlu kifayah, terdiri dari ilmu-ilmu yang dapat dimanfaatkan untuk memudahkan urusan hidup duniawi, seperti ilmu hitung (matematika), ilmu kedokteran, ilmu teknik, ilmu pertanian dan Industry
Dari kedua katagori ilmu-ilmu tersebut, al Ghazali merinci lagi menjadi[5] :
1.      Ilmu-ilmu al Qur’an dan ilmu agama seperti fikih, hadist, dan tafsir
2.      Ilmu bahasa, seperti nahwu saraf, makhraj, dan lafal-lafalnya, yang membantu ilmu agama.
3.      Ilmu-ilmu yang fardlu kifayah terdiri dari berbagai ilmu yang memudahkan urusan kehidupan duniawi seperti ilmu kedokteran, matematika, teknologi (yang beraneka ragam jenisnya)
4.      Ilmu kebudayaan  seperti syair, sejarah dan beberapa cabang filsafat.
Sedangkan Prof. H.M Arifin M.Ed, menyatatkan kategori ilmu pengetahuan Islam yang harus dijadikan materi kurikulum sebagai berikut :
1.      Ilmu pengetahuan dasar yang esensial adalah ilmu-ilmu yang membahas (Ulumul Qur’an) dan al Hadis.
2.      Ilmu-ilmu pengetahuan yang membahas tentang manusia sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat, ilmu ini memasukkan ilmu-ilmu : antropologi, pedagogic, psikologi, sosiologi, sejarah, ekonomi, politik, hukum dan sebagainya.
3.      Ilmu-ilmu pengetahuan tentang alam atau disebut al Ulum al Kauniyah (ilmu pengetahuan alam) yang termasuk di dalamnya antara lain biologi, botani, fisika, asrtonomi  dan sebagainya.



B.     Komponen kompentensi
Pada pembahasan sebelumnya telah dibahas mengenai materi pengajaran, maka dapat dikatakan bahwa peserta didik harus terampil dalam merealisasikan materi pendidikan islam. Oleh karena itu akan kami sebutkan langkah-langkah untuk melatih ketrampilan peserta didik:
1.      Merumuskan tujuan pengajaran (TPK,TIK)
Contoh : siswa dapat mempraktikan wudlu
2.      Menjelaskan kepada murid ketrampilan apa yang harus dikuasai oleh peserta didik
Penjelasan ini perlu untuk dilakukan untuk mengarahkan perhatian mereka agar mereka mengetahui dengan jelas apa yang harus dilakukan dan apa yang diperoleh setelah melalui latihan.
3.      Menentukan entering behavior
Untuk sementara istilah ini kami terjemahkan menjadi pengetahuan awal. Ini adalah kegiatan guru untuk menentukan kondisi siswa sebelum latihan dimulai, antara lain mengenai kemampuan siswa tentang bahan yang akan diajarkan. Untuk apa melatih mereka berwudlu bila mereka semuanya sudah dapat berwudlu.
4.      Menganalisis satuan dalam ketrampilan yang akan diajarkan
Dalam hal ketrampilan wudlu satuan itu ialah rukun-rukunnya : seperti membasuh muka, tangan dst.
5.      Latihan menguasai ketrampilan
Ketrampilan wudlu misalnya. Penguasaan ketrampilan baru mugkin bila satuan-satuannya telah dikuasai. Salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah dengan membuat lesson plan.

Contoh lesson plan untuk pembinaan ketrampilan fisik dalam pengajaran agama Islam

Bahan pengajaran : berwudlu
TIK : Murid mampu berwudlu dengan benar
KA            : (anda dapat bertanya, menyuruh mempraktikkan, atau cara lain untuk mengetahui kondisi murid)

PBM :
1.      Memberitahukan kepada murid bahwa mereka akan dilatih wudlu
2.      Guru membawa murid ke tempat wudlu
3.      Guru mempraktikan wudlu
4.      Dua atau tiga orang diminta mempraktikan berwudlu bergantian, sementara yang lain memperhatikan
5.      Guru memberikan koreksi bila ada kesalahan
6.      Guru berwudlu lagi 2 atau 3 kali, murid memperhatikan
7.      Guru meminta 2 atau 3 orang murid untuk mempraktikkan cara berwudlu
8.      Guru praktik lagi kira-kira 2 atau 3 kali

TA : ambil kira-kira 25 % dari siswa secara acak, satu persatu disuruh berwudlu
(masing-masing dinilai; jumlah nilai mereka dibagi dengan jumah mereka nilai rata-rata itu menjadi nilai setiap murid; cara ini disebut mengevaluasi sempel)

C.    Komponen metode
1.      Pengertian metode
a.       Secara etimologi
Metode dalam bahasa arab dikenal dengan istilah Thoriqoh yang berarti langkah-langkah strategis yang dipersiapkan unuk melakukan suatu pekerjaan[6], bila dihubungkan dengan pendidikan, maka metode harus diwujudkan dalam proses pendidikan, dalam rangka mengembangkan sikap mental dan kepribadian agar peserta didik menerima pelajaran dengan mudah, efektif dan dapat dicerna dengan baik.
Metode mengajar dapat diartikan sebagai cara yang dipergunakan oleh guru dalam membelajarkan peserta didik saat berlangsungnya proses pembelajaran.
b.      Secara terminologi
Para ahli mendefinisikan metode sebagai berikut :
1)      Hasan Hutagalung mendefinisikan bahwa metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan pendidikan.
2)      Abd. Al Rahman Ghunaimah mendefinisikan bahwa metode adalah cara-cara yang praktis dalam mencapai tujuan.
3)      Ahmad Tafsir, mendefinsikan bahwa metode adalah cara yang paling tepat dan cepat dalam mengajarkan mata pelajaran.
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa metode adalah seperangkat cara, jalan dan teknik yang digunakan oleh pendidik dalam proses pembelajaran agar peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran atau menguasai kompetensi tertentu yang dirumuskan oleh silai mata pelajaran.

2.      Dasar metode pendidikan islam
a.       Dasar agamis
Dalam pelaksanaanya metode Islam pendidikan dipengaruhi oleh corak kehidupan beragama pendidik dan peserta didik. Oleh karena itu metode pendidikan Islam tidak boleh menyimang dari dua sumber ajaran islam yaitu al Qur’an dan al Hadist. Ia haruslah merujuk kepada dua sumber ajaran tersebut. Misalnya pelajaran olah raga, maka seorang pendidik harus mampu menggunakan metode yang didalamnya terkandung ajaran al Qur’an dan al Hadist seperti masalah pakaian yang Islami dalam olah raga.
b.      Dasar biologis
Perkembangan biologis manusia, mempunyai pengaruh dalam perkembangan intelektualnya. Sehingga makin lama perkembangan biologi seseorang, maka dengan sendirinya makin meningkat pula daya intelektualnya. Dalam memberikan pendidikan dan pengajaran dalam pendidikan Islam, seorang pendidik harus memperhatikan perkembangan biologis seseorang. Misalnya seorang yang menderita cacat jasmani akan mempunyai kelebihan dan kekurangan yang mungkin tidak dimiliki oleh orang normal, seperti penyakti rabun jauh maka ia akan cenderung duduk di bangku barisan depan sehingga ia tidak bisa bermain-main pada waktu guru menjelaskan pelajarannya. Hal itu berlangsung terus menerus, maka dia akan lebih mampu dan berhasil di bangding dengan teman lainnya, apalagi ia termotivasi dengan kelainannya tersebut.
c.       Dasar psikologis
Pada hakikatnya manusia terdiri dari dua unsur yaitu jasmani dan rohani yang keduanya tidak dapat dipisahkan dan merupakan satu kesatuan. Kondisi psikis peserta didik memberikan pengaruh besar terhadap internalisasi nilai dan transformasi ilmu. dalam kondisi jiwa yang labil (neurosis), menyebabkan transformasi ilmu pengetahuan dan internalisasi nilai akan berjalan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena agar metode pendidikan dapat berjalan dengan efektif maka kondisi psikis seseorang haruslah berdasar pada hal itu.
Kondisi rohani yang menjadi dasar dalam metode pendidikan Islam merupakan kekuatan bagi peserta didik dalam proses pembelajaran. Kondisi psikis tersebut meliputi motivasi, emosi, minat, sikap, keinginan, kesediaan, bakat-bakat, dan kecakapan akal (intelektual). Sehingga seorang pendidik dituntut untuk mengembangkan potensi psikologis yang ada pada peserta didik.
d.      Dasar sosiologis
Interaksi yang terjadi antara sesama peserta didik dan interaksi anatara guru dan murid, merupakan interaksi timbal balik yang kedua belah pihak akan saling memberikan dampak positif pada keduanya. Dalam kenyataan secara sosiologis seseorang individu dapat memberikan pengaruh pada lingkungan social masyarakatnya dan begitu pula. Karena itu, guru dalam interaksi dengan peserta didiknya hendaklah memberikan tauladan dalam proses sosialisasi dengan pihak lainnya, seperti dikala berhubungan dengan peserta didik, sesama guru, karyawayan, dan kepala sekolah.
3.      Prinsip-prinsip metode mengajar
a.       Metode tersebut harus memanfaatkan teori kegiatan mandiri.
b.      Metode tersebut harus memanfaatkan hukum pembelajaran.
c.       Metode tersebut harus berawal dari apa yang diketahui peseerta didik.
d.      Metode tersebut harus didasarkan atas teori dan praktek yang terpadu dengan baik yang bertujuan menyatukan kegiatan pembelajaran.
e.       Metode tersebut harus memperhatikan perbedaan individual dan menggunakan prosedur-prosedur yang sesuai dengan ciri-ciri pribadi seperti kebutuhan, minat serta kematangan mental dan fisik.
f.       Metode harus merangsang kemampuan berpikir dan nalar para peserta didik.
g.      Metode tersebut harus disesuaikan dengan kemajuan peserta didik dalam hal ketrampilan, kebiasaan, pengetahuan, gagasan, dan sikap peserta didik, karena semua ini merupakan dasar dalam psikologi perkembangan.
h.      Metode tersebut harus menyediakan bagi peserta didik pengalaman-pengalaman belajar melalui belajar yang banyak dan bervariasi. Kegiatan-kegiatan yang banyak dan bervarisasi tersebut diberikan untuk memastikan pemahaman.
i.        Metode tersebut harus menantang dan memotivasi peserta didik ke arah kegiatan-kegiatan yang menyangkut proses deferensi dan integrasi. Proses penyatuan pengalaman sangat membantu dalam terbentuknya tingkahl laku terpadu. Ini  paling baik dicapai melalui penggunaan metode pengajaran terpadu.
j.        Metode tersebut harus memberi peluang bagi peserta didik untuk bertanya dan menjawab pertanyaan. Dan memberi peluang pada guru untuk menemukan kekurangan-kekurangan agar dapat dilakukan perbaikan dan pengayaan (remedial dan anrichment).
k.      Kelebihan suatu metode dapat menyempurnakan kekurangan/kelemahan metode lain.
l.        Suatu metode dapat dipergunakan untuk berbagai jenis materi atau mata pelajaran satu materi atau mata pelajaran memerlukan banyak metode.
m.    Metode pendidikan harus digunakan dengan  prinsip fleksibel dan dinamis. Sebab dengan kelenturan dan kedinamisan metode tersebut, pemakaian metode tidak hanya menonton dan zaklik dengan satu metode saja.
4.      Penggunaan metode
Langgulung berpendapat bahwa penggunaan metode didasarkan atas tiga aspek pokok  yaitu :
a.       Sifat-sifat dan kepentingan yang berkenaan dengan tujuan utama pendidikan Islam yaitu pembinaan manusia mukmin yang mengaku sebagai hamba Allah.
b.      Berkenaan dengan metode-metode yang betul-betul berlaku yang disebutkan dalam al Qur’an atau disimpulkan daripadanya.
c.       Membicarakan tetang pergerakan (motivation) dan disiplin istilah al Qur’an disebutk ganjaran (shawab) dan hukuman Iqab[7].
Dari penjelasan diatas bahwa metode pendidikan islam sangat menghargai kebebasan individu, selama itu sejalann dengat fitrahnya, sehingga seorang guru dalam mendidik tidak dapat memaksa peserta didiknya dengan cara yang bertentangan dengan fitrahnya. Akan tetepi sebaliknya guru membentuk karakter peserta didiknya. Tidak boleh duduk diam sedangkan peserta didiknya memilih jalan yang salah. Hal in berbeda dengan pendidikan yang diterapkan oleh barat. Hamper sepenuhnya metode pendidikan diserahkan hampir sepenuhnya kepada kepentingan peserta didik. Para guru hanya bertindak sebagai motivator, simulator, fasilitator, ataupun sebagai instruktur.
Sistem  yang cenderung dan mengarah kepada peserta didik sebagai pusat (child center) ini sangat menghargai adanya perbedaan individu para peserta didik (individual differencies).hal ini menyebabkan para guru hanya bersikap merangsang dan mengarahkan para peserta didiknya untuk belajar dan mereka diberi kebebasan, sedangkan pembentukan karaker dan pembinaan moral hamper kurang menjadi perhatian guru. Akibat penerapan metode yang demikian itu menyebabkan pendidikan kurang membangun watak dan kepribadian. Dihubungkan dengan fenomena yang terjadi dalam masyarakat bahwa guru semakin tidak dihormati oleh peserta didiknya.
5.      Metode mengajar
Dibawah ini dikemukakan metode mengajar dalam pendidikan Islam yang dasar dari al Qur’an dan Hadist .
a.       Metode  ceramah
Adalah suatu cara pengajian atau penyampaian informasi melalui penuturan secara lisan oleh pendidik kepada peserta didik.
Firman Allah Swt :
Artinya : “Sesungguhnya kami kami turunkan al Qur’an dengan bahasa arab, mudah-mudahan kamu mengerti maksudnya. Kami riwayatkan kepadamu sebaik-baik dengan perantara al Qur’an yang kami wahyukan ini, padahal sesungguhnya adalah engkau dahulu tidak mengetahui (orang yang lalai).”  Q.S. Yunus : 23)
b.      Metode  Tanya jawab
Adalah suatu cara mengajar dimana seorang guru mengajukan beberapa pertanyaan kepada murid tentang bahan pelajaran yang telah diajarkan atau bacaan yang telah mereka baca. Sedangkan murid memberikan jawaban berdasarkan fakta.
            Prinsip dasar metode ini adalah hadis
            Pada suatu hari datanglah seorang laki-laki dari dusun, lalu ia bertanya : “Ya, Muhammad, telah datang kepada kami utusan engkau, ia mengatakan bahwa Allah mengutus engkau menjadi Rasul”.
Nabi        : “Benar demikian “.
Laki-laki  : “Siapa yang menjadikan langit.?.”
Nabi        : “Allah”
Laki-laki  : “Siapa yang menjadikan bumi ?”
Nabi        : “Allah”
Laki-laki  : “Siapa yang menjadikan gunung dengan segala isiya ?.”
Laki-laki  : “Demi yang menjadikan langit dan bumi menegakkan gunung-gunung adalah Allah mengutus engkau menjadi Rasul.”
Nabi        : “Ya”
Laki-laki  : utusan engkau mengatakan bahwa kewajiban kami mengerjaan sembahyang lima waktu sehari semalam.
Nabi        :   Benar demikian
Laki-laki  :   “Demi yang mengutus engkau adalah Allah menyuruh engkau mengerjakan sembahyang itu."
Nabi        : “Ya”
Laki-laki  : Utusan engkau mengatakan bahwa kewajiban kami membayar zakat.
Nabi        : “Benar demikian”
Laki-laku : demi yang mengutus engkau adalah Allah yang memberikan zakat itu.
Nabi        : “Ya”
c.       Metode diskusi
Adalah suatu cara penyajian/penyampaian bahan pembelajaran dimana pendidik memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membicarakan dan menganalisis secara ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternative pemecahan atas sesuatu masalah.
            Firman Allah
            Artinya  :“Dan mereka berkata, “aduhai,celaka kita”, inilah hari pembalasan inilah hari yang kalian dustakan. Kami perintahkan kepada malaikat….” Kumpulkan mereka itu bersama-sama teman mereka…dan tunjukkan kepada mereka jalan neraka”.
d.      Metode pemberian tugas
Adalah suatu cara mengajar dimana seorang guru memberikan tugas-tugas tertentu kepada murid-murid, sedangkan hasil tersebut diperiksa oleh guru dan murid mempertanggungjawabkannya.
            Firman Allah
            Artinya :“Hai orang-orang yang berselubung, bangunlah dan pertakutilah kaummu, hendak besarkan tuhanmu. Dan bersihkanlah pakaianmu! Tinggallah pekerjaan-pekerjaan yang mendatangkan siksaan. Janganlah engkau memberi kepada orang lain lantaran hendak meminta lebih banyak. Sabar dan uletlah menurut perintah tuhanmu.
e.       Metode demonstrasi
Adalah suatu cara mengajar dimana gur mempertunjukkan tentang proses sesuatu atau pelaksanaan sesuatu sedangkan murid memperhatikannya.
            Nabi SAW bersabda                                                                    
            Artinya : “Dari Jabir r.a katanya : “saya melihat Nabi besar Muhammad Saw melontar jumrah di atas kendaraan beliau pada hari raya Haji, lalu beliau berkata : “hendaklah kamu turut cara-cara ibadat sebagaimana yang aku kerjakan ini, karena sesungguhnya aku tidak mengetahui apakah aku akan dapat mengerjakan haji lagi sesudah ini”
f.       Metode eksperimen
Adalah suatu cara mengajar dengan menyuruh murid melakukan sesuatu percobaan, dan setiap proses dan hasil percobaan itu diamati oleh setiap murid. Sedangkan guru memperhatikan yang dilakukan oleh murid sambil memberikan arahan.
Dalam hadist dijelaskan : ”Pada suatu hari Nabi sedang dalam masjid, tiba-tiba masuklah seorang laki-laki untuk menunaikan shalat. Kemudian ia menghadap Nabi seraya memberi salam. Setelah Nabi menjawab salamnya lalu ia berkata :kembalilah dan shalatlah sekali lagi. Karena engakau belum shalat. Kemudian laki-laki itu sekali lagi, setelah selesai ia dating pula menghadap Nabi seraya memberi salam. Nabi bersabda : “Kembalilah dan shalatlah sekali lagi, karena engkau belum shalat. (hal itu sampai tiga kali)
g.      Metode kerja kelompok
Adalah suatu cara mengajar dimana guru membagi murid-muridnya de dalam kelompok belajar tertentu dan setiap kelompok diberi tugas-tugas tertentu dalam rangkai mencapai tujuan pembelajaran sebagai prinsip dasar metode ini adalah al Qur’an :
Artinya : “Dan tidaklah patut orang mukmin keluar semua, tetapi alangkah baiknya keluar sebagai dari tiap-tiap kelompok, untuk mempelajari ilmu agama dan memberi khabar takut kepada umatnya waktu mereka kembali mereka, semoga mereka berhenti takut”
h.      Metode kisah
Adalah suatu cara mengajar dengan memberikan materi pembelajaran melalui kisah atau cerita. Prinsip dasar metode ini adalah al Qur’an.
Artinya :“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paing baik dengan mewahyukan al Qur’an ini kepadamu dan sesungguhnya kamu (sebelum kami mewahyukannya) adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.
i.        Matode amsal
Suatu cara mengajar dengan menyampaikan materi pembelajaran dengan membuat/melalui contoh atau perumpamaan.
Firman Allah SWT :
Artinya : “Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api mereka, setelah api itu menerangi mereka sekelilingnya Allah menghilangkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.
j.        Metode taghrib dan tarhib
Cara mengajar dengan memberikan materi pembelajaran dengan menggunakan ganjaran terhadap kebaikan dan hukuman terhadap keburukan agar peserta didik melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan.
Firman Allah SWT
Artinya : “sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka jahannam mereka kekal di dalamnya dan mereka adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka disisi Tuhan mereka adalah surga’ Adan yang mengalir dibawahnya sungai dan mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.
D.    Komponen evaluasi
1.      Pengertian
a.      Secara etimologi
Evaluasi berasal dari bahasa ingris : Evaluation akar katanya value  yang berarti nilai atau harga. Nilai dalam bahasa Arab disebut al Qimah atau al Takdir. Dengan demikian secarai evaluasi pendidikan al Takdir al Tarbawiy dapat diartikan sebagai penilaian dalam (bidang) pendidikan atau penilaian hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan pendidikan.
b.      Secara terminology
Para ahli mendefinisikan evaluasi sebagai berikut[8] :
1)      Menurut Edwin Wandt, evaluasi mengandung pengertian suatu tindakan atau proses dalam menentukan nilai sesuatu.
2)      Menurut M. Chabib Thoha, evaluasi merupakan kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan objek dengan menggunakan instrument dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur untuk memperoleh kesimpulan.
Dengan demikian evaluasi bukan sekedar menilai suatu aktifiats secara spontan dan incidenta, melainkan merupakan kegiatan untuk menilai secara terencan. Sistematik, dan berdasarkan atas tujuan yang jelas.
2.      Fungsi evaluasi
 Al qur’an menginspirasikan bahwa pekerjaan evalusai terhadap manusia didk merupakan suatu tugas penting dalam rangkaian proses pendidikan yang telah dilaksanakan oleh pendidik. Ada tiga tujuan pedagogis dari system evaluasi tuhan terhadap perbuatan manusia, yaitu sebagai berikut :[9]
1)      Untuk menguji daya kemampuan manusia beriman terhadap berbagai macam problema kehidupan yang dialaminya.
2)      Untuk mengetahui sejauh mana hasil pendidikan wahyu yang telah diterapkan Rasulullah Saw. Terhadap umatnya.
3)      Untuk menentukan klasifikasi atau tingkat-tingkat hidup keislaman atau keimana manusia, sehingga diketahui manusia yang paling mulia di sisi Allah yaitu paling bertakwa kepada-Nya, manusia yang sedang dalam iman dan ketakwaannya, manusia yang ingkar kepada ajaran Islam.
Seorang pendidik melakukan evaluasi di sekolah mempunyai fungsi sebagai berikut :[10]
1)      Untuk mengetahui peserta didik yang mana yang terpandai dan terbodoh dikelasnya.
2)      Untuk mengetahui apakan bahan yang telah diajarkan sudah dimiliki oleh peserta didik atau belum.
3)      Untuk mendorong persaingan yang sehat diantara sesama peserta didik.
4)      Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan peserta didik setelah mengalami didikan dan ajaran.
5)      Untuk mengetahui tepat atau tidaknya guru memilih bahan, metode, dan berbagai penyesuian dalam teks.
6)      Sebagai laporan terhadap orangtua peserta didik dalam bentuk rapor ijazah, piagam dan sebagainya.
3.      Prinsip evalusai
a.      Prinsip umum
1)      Valid
Evaluasi mengukur apa yang seharusnya diukur dengan menggunakan jenis tes yang terpercaya dan shahih. Artinya adanaya kesesuaian alat ukur dengan fungsi pengukuran dan sasaran pengukuran.
2)      Berorientasi kepada kompetensi
Evalusai harus memiliki pencapaian kompentsi peserta didik yang meliputi seperangkat pengetahuan, sikap keterampilan dan nilai yang terefleksi dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Dengan berpijak pada kompetensi ini maka, ukuran-ukuran keberhasilan pembelajaran akan dapat diketahui secara jelas dan terarah
3)      Berkelanjutan
Evaluasi harus dilakukan secara terus menerus dari waktu-kewaktu untuk mengetahui secara menyeluruh perkembangan peserta didik, sehingga kegiatan dan untuk kerja peserta didik dapat dipantau melalui penilaian
4)      Menyeluruh
Evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh, yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dan meliputi seluruh materi ajar serta berdasarkan pada strategi dan prosedur penilaian. Dengan berbagai bukti tentang hasil belajar peserta didik yang dapat dipertanggungjawabkan kepada semua pihak.
5)      Bermakna
Evaluasi diharapkan mempunyai makna yang signifikan bagi semua pihak untuk itu evaluasi hendaknya mudah dipahami dan dapat ditindak lanjuti oleh pihak yang berkepentingan. Hasil penilaian hendaknya mencerminkan gambaran yang utuh tentang prestasi peserta didik dalam pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan.
6)      Adil dan objektif
Evaluasi harus mempertimbangkan rasa keadilan bagi peserta didik dan objektifitas pendidik, tanpa membedakan jenis kelamin, latar belakang etnis, budaya, dan berbagai hal yang memberikan kontribusi pada pembelajaran. Sebab ketidak adilan dalam penilaian dapat menyebabkan menurunya motivasi belajar peserta didik karena merasa dianak tirikan
7)      Terbuka
Evaluasi hendaknya dilakukan secara terbuka bagi berbagai kalangan sehingga keputusan tentang keberhasilan peserta didik jelas bagi pihak-pihak yang berkepentingan, tanpa adanya rekayasa atau sembunyi-sembunyi yang dapat merugikan semua pihak.
8)      Ikhlas
Ikhlas berupa kebersihan niat atau hait pendidik, bahwa ia melakukan evaluasi itu dalam rangka efisiensi tercapainya tujuan pendidikan, dan bagi kepentingan peserta didik.
9)      Praktis
Praktis berarti mudah dimengerti dan dilaksanakan dengan beberapa indikator : yaitu :
a)      Hemat waktu, biaya dan tenaga
b)      Mudah diadministrasikan
c)      Mudah menskor dan mengolahnya
d)     Mudah ditafsirkan
10)  Dicatat akurat
Hasil dari setiap evalusai prestasi didik harus secara sistematis dan komprehensif dicatat dan disimpan, sehingga sewaktu-waktu dapat dipergunakan.
b.      Prinsip khusus
1)      Adanya jenis penilaian yang digunakan yang memungkinkan adanya kesempatan terbaik dan maksimal bagi peserta didik menunjukkan kemampuan hasil belajar mereka.
2)      Setiap guru mampu melaksanakan prosedur penilaian, dan pencatatan secara tepat prestasi dan kemampuan serta hasil belajar yang dicapai peserta didik.
4.      Jenis-jenis penilaian
a.       Penilaian formatif yaitu penilaian untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai oleh para peserta didik setelah menyelesaikan program dalam satuan materi pokok pada suatu bidang study tertentu.
b.      Penilaian sumatif yaitu penilaian yang dilakukan terhadap hasil belajar peserta didik yang telah selesai mengikuti pembelajaran dalam satu caturwulan semester, atau akhir tahun.
c.       Penilaian penempatan yaitu penilaian tentang pribadi peserta didik untuk kepentingan penempatan di dalam situsasi belajar yang sesuai dengan kondisi peserta didik.
d.      Penilaian dianostik yaitu penilaian yang dilakukan terhadap hasil penganalisaan tentang keadaan belajar peserta didik baik merupakan kesulitan atau hambatan yang ditemui dalam proses pembelajaran
5.      Langkah-langkah penilaian
a.       Penentuan tujuan evaluasi
b.      Penyusunan kisi-kisi soal
c.       Telaah atau “review dan revisi” soal
d.      Uji coba
e.       Penyusunan soal
f.       Penyajian tes
g.      Scoring
h.      Pengolahan hasil tes
i.        Pelaporan hasil tes
j.        Pemanfaatan hasil tes

DAFTAR PUSTAKA
Kamus Besar Bahasa Indonesia. CD software
H.M. Arifin, M.Ed. Ilmu Pendidikan Islam Tinjauan Teoritis Dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipline. PT. Bumi Aksara : Jakarta. 2003.
Prof.Dr. H. Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam. Kalam Mulia : Jakarta. 2010.
Dra.  Hj. Nur Uhbiyati.ilmu Pendidikan Islam. Pustaka setia : Jakarta . 2005




[1] Kamus Besar Bahasa Indonesia. CD software
[2] Prof. H.M. Arifin, M.Ed. Ilmu Pendidikan Islam Tinjauan Teoritis Dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipline. PT. Bumi Aksara : Jakarta. 2003. Hal 135.
[3] Ibid.
[4]Ibid. hal 137
[5]Dra.  Hj. Nur Uhbiyati.ilmu Pendidikan Islam. Pustaka setia : Jakarta . 2005
[6] Prof.Dr. H. Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam. Kalam Mulia : Jakarta. 2010. Hal 184
[7] Prof.Dr. H. Ramayulis. Opcit. Hal 190

[8]Prof.Dr. H. Ramayulis. Opcit. Hal 221
[9] Prof. H.M. Arifin, M.Ed. opcit. Hal 163
[10] Prof.Dr. H. Ramayulis. Opcit. Hal 224

0 komentar:

Poskan Komentar