Sabtu, 14 April 2012

IKhwan As-Shafa

I.                  Pendahuluan
              Sejarah mencatat bahwa setelah timbulnya seorang filusuf, muncul kemudain filusuf  lainya yang mengoreksi penemuan yang pertama dan mengajukan gagasan-gagasan yang memperbaharui gagasan yang pertama, demikianlah seterusnya sepanjang kehidupan manusia berlangsung. Hal ini dimungkinkan keinginan tahu manusia yang besar sebagai refleksi dari potensi kemanusian yang dimilikinya yang dianugerahkan Allah swt kepada manusia, yang berupa akal, intuisi, alat deria, dan kekuatan fisik. Adapun penemuan-penemuan dimaksud mencakup seluruh pertanyaan-pertanyaan hidup mengenai arti, isi, dan makna dari segala sesuatu yang dilihat dan dialami manusia. Jadi, secara sederhana dapat dikatakan, filsafat adalah hasil kerja berfikir dalam mencari hakikat segala sesuatu secara sistematis, radikal, dan universal. Sedangkan filsafat islam itu sendiri adalah hasil pemikiran filusuf tentang ketuhanan, kenabian, manusia, dan alam yang disinari ajaran islam dalam suatu aturan pemikiran yang logis dan sistematis.
              Mereka mengambil terminologi dari aristoteles, akan tetapi konsep (bahan dan bentuk, substansi, potensial) di rubah sedikit olehnya. Hal ini mendasari bahwa filsafat mereka bersumber dari filsafat yunani[1].
Nah, dalam makalah ini akan sedikit tentang pemikiran filsafat metafisikanya Ikhwan al-Safa sebagai salah satu organisasi militan yang lebih suka merahasiakan dirinya. Oleh karena itu pemakalah menyarankan kembali untuk membaca karya monumentalnya Ikhwan as-Safa’ yaitu Rasail Ikhwan as-Safa’. Sebagai penutup dari pengantar ini, penulis mengharapkan semoga makalah ini berguna bagi kita semua.


II.               Pembahasan
Metafisika versi Ikhwan as-Safa’.
Adapun tentang ketuhanan, ikhwan as-Safa’ melandasi pemikirannya  kepada bilangan. Menurut mereka, ilmu bilangan adalah lidah yang mempercakapkan tentang tauhid, at-tanzih dan meniadakan sifat dan tasybih serta dapat menolak sikap orang yang  mengingkari keesaan tuhan. Dengan kata lain, pengetahuan tentang angka membawa kepada pengakuan tentang keesaan tuhan, karena apabila angka satu rusak, maka rusaklah semuanya. Selanjutnya mereka katakan, angka satu sebelum angka dua, dan dalam angka dua terkandung pengertian kesatuan. Dengan istilah lain, angka satu adalah angka permulaan dan ia lebih dahulu dari angka dua, dan lainnya. Oleh karena itu keutamaan terletak pada yang dahulu, yaitu angka satu. Sedangkan angka dua dan yang lainnya terjadi kemudian. Karena itu terbuktilah bahwa yang esa (tuhan) lebih dahulu dari yang lainya seperti dahulunya angka satu dari angka yang lainnya[2].
Ikhwan al-Safa’ juga melakukan al-tanzih, meniadakan sifat dan tasbih kepada tuhan. Tuhan adalah pencipta segala yang ada dengan cara al-faidh (emanasi) dan memberi bentuk, tanpa waktu dan tempat, cukup dengan firman-Nya (kun fa kana) maka adalah segala yang dikehendakinya. Ia berada pada segala sesuatu tanpa berbaur dan bercampur, seperti adanya angka satu dalam tiap-tiap bilangan. Sebagaimana bilangan satu tidak dapat dibagi dan tidak serupa dengan bilangan lain, demikian juga tuhan tidak ada yang menyamai dan menyerupai-Nya. Tetapi ia jadikan fitrah manusia untuk dapat mengenal-Nya tanpa belajar[3].
Dari pembicaraan diatas tampak pengaruh Neo-Pythagoreanisme yang dipadukan dengan filsafat keesaan Plotinus.
Tentang ilmu tuhan, ikhwa as-Safa’, beranggapan bahwa seluruh pengetahuan berada dalam ilmu tuhan  sebagaimana beradanya seluruh bilangan dalam angka satu. Berbeda dengan ilmu para pemikir, ilmu tuhan dari zatnya sebagaimana bilangan yang banyak dari bilangan yang satu yang meliput seluruh bilangan. Demikian pula ilmu tuhan terhadap segala sesuatu yang ada.
Berkaitan dengan penciptaan alam, pemikitran Ikhwan as-safa’ merupakan perpaduan antara pendapat aristoteles, plotinus, dan mutakalimin. Bagi ikhwan as-Safa’ tuhan adalah pencipta dan mutlak esa. Dengan kemauan sendiri tuhan menciptakan akal pertama atau akal aktif (al ‘aql al fa’al) secara emanasi. Dengan demikian, kalau tuhan qadim dan baqi, maka akal pertama pun demikian halnya. Pada akal pertama ini lengkap segala potensi yang akan muncul pada wujud berikutnya. Jadi secara tidak langsung tuhan berhubungan dengan alam materi, sehingga kemurnian tauhid dapat dipelihara dengan sebaik-baiknya. Lengkapnya Rangkaian proses emanasi itu adalah
  1. Akal pertama atau akal aktif (al-‘aql al-fa’ilah)
  2. Jiwa unifersal (al-nafs al-kulliyah)
  3. Materi pertama (al-hayula al-ula)
  4. Potensi jiwa universal (al-thabi’ah al-fa’ilah)
  5. Materi absolut atau materi kedua (al-jism al-muthalaq)
  6. Alam pelanet-pelanet (‘alam al-aflak)
  7. Anasir-anasir alam terendah (‘anashir al-‘alam al-sufla) yaitu udara tanah dan api
  8. Materi gabungan, yaitu terdiri dari mineral, tumbuh-tumbuhan dan hewan.
Kedelapan mahiyah diatas bersama dengan zat allah yang mutlak sempurnalah bilangan menjadi sembilan. Angka sembilan ini membentuk substansi organik pada tubuh manusia, yaitu tulang, sumsum, daging, urat, darah, saraf, kulit, rambut, dan kuku.
Segala sesuatu dialam ini ada kalanya berupa materi, bentuk, jauhar atau aradh. Jauhar yang pertama adalah materi dan bentuk. Sedangkan aradh yang pertama adalah tempat, gerak, dan zaman. Ikhwan as-Safa’ juga menerima pemikiran aristoteles yang mengemukakan bahwa segala sesuatu itu merupakan perpaduan antara materi dan bentuk tetapi bagaimana hubungan antara materi dan bentuk itu tidak jelas.
Proses penciptaan secara emanasi menurut ikhwan as-Safa’ terbagi kepada dua yaitu:
1)      Penciptaan sekaligus  sebagaimana terdapat dalam alam rohani, yakni Akal Aktif, Jiwa Universal, dan Materi pertama
2)      Penciptaan secara gradual, sebagai terdapat dalam jasmani,yakni jisim mutlak dan seterusnya, juga alam semesta yang mempunyai awal dan akan berakhir pada masa tertentu[4].
Salah satu pemikiran ikhwan as-Safa’ yang mengagungkan ialah rentetan emanasi kedelapan. Mereka telah mendahului carles darwin (1809-1882 m) tentang rangkaian kejadian di alam secara revolusi. Menurut mereka alam mineral, alam tumbuh-tumbuhan, alam hewan, dan alam manusia merupakan satu rentetan yang  sambung menyambung. objek-objek fisik tersusun atas empat unsur yang menimbulkan, melalui empat perantara kualitas utama, objek-objek gabungan di dunia ini, yaitu mineral, tumbuh-tumbuhan dan hewan. Meskipun begitu, segala sesuatu didunia ini pada akhirnya dapat disederhanakan menjadi dua substansi asli. Yaitu asap dan lumpur. Ketika matahari dan planet-planet menyebabkan air menguap,  ia berubah menjadi uap atau kabut, dan kemudian keduanya diubah menjadi awan, yang berubah menjadi hujan, dan hujan ketika bercampur dengan tanah akan berubah menjadi lumpur, yang pada akhirnya membentuk substratum mineral, tumbuh-tumbuhan, dan hewan. Jadi tingkatan pencipta yang paling rendah adalah mineral, dan paling tinggi mencapai puncaknya pada manusia sebagai khalifah allah dimuka bumi, yang merupakan tapal batas antara urutan malaikat dan hewan.
Menurut Ikhwan as-Safa’ yang dalam hal ini dipengaruhi kaum Stoik, tubuh manusia merupakan miniatur alam semesta sebagai keseluruhan (mikrokosmos). Dengan sembilan buah bola langit yang menyusun dunia, (jupiter, saturnus, mars, matahari, venus, merkurius, bulan, atmosfir, dan bumi.) Dapat disamakan dengan sembilan substansi organik yang membentuk tubuh manusia, yakni tulang, sum-sum, daging, urat, darah, saraf, kulit, rambut, dan kuku. Dan ini semua ditata seperti sembilan bola (langit) konsentrik. Dengan dua belas tanda zodiak dapat disamakan dua belas lubang tubuh,  yaitu dua mata, dua telinga dua hidung, dua puting, satu mulut, satu pusar, dan dua saluran pelepasan.
Ilmu bilangan berkaitan dengan planet-planet. Peredaran planet memberi pengaruh terhadap kehidupan manuia, baik terhadap tubuh maupun terhadap jiwa. Masing-masing planet mempunyai tugas dan sifat mandiri. Jupiter, Venus, dan matahari beredar membawa kebahagiaan. Saturnus, Mars, dan Bulan beredar membawa kesengsaraan. Sedangkan matahari percampuran antara senang dan celaka.
Tentang logika, Ikhwan al-Safa’ mengajukan konsep alur berpikir yang lurus, yaitu urutan berpikir sistematis:
1.      Analisis (al-tahlil), untuk mengetahui obyek inderawi secara rinci.
2.      Definitif (al-had), untuk mengetahui genus (al-jins)[5].
III.             Kesimpulan
Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa rangkaian proses emanasi itu adalah
  1. Akal pertama atau akal aktif (al-‘aql al-fa’ilah)
  2. Jiwa unifersal (al-nafs al-kulliyah)
  3. Materi pertama (al-hayula al-ula)
  4. Potensi jiwa universal (al-thabi’ah al-fa’ilah)
  5. Materi absolut atau materi kedua (al-jism al-muthalaq)
  6. Alam pelanet-pelanet (‘alam al-aflak)
  7. Anasir-anasir alam terendah (‘anashir al-‘alam al-sufla) yaitu udara tanah dan api
  8. Materi gabungan, yaitu terdiri dari mineral, tumbuh-tumbuhan dan hewan.
Jadi Kedelapan mahiyah diatas bersama dengan zat allah yang mutlak sempurnalah bilangan menjadi sembilan. Angka sembilan ini membentuk substansi organik pada tubuh manusia, yaitu tulang, sumsum, daging, urat, darah, saraf, kulit, rambut, dan kuku.

Daftar Pustaka
Nasution, Hasyim syah, filsafat islam, penerbit gaya media pertama (GMP). cet. III Jakarta 2002.



[1]  They share common terminology with the Aristotelian scheme, but the concepts (matter and form, substance –in Greek ousia — and accidents, potentially and actuality, and the four causes) vary slightly. For them, learning is the reminiscence of knowledge already contained in the soul; the soul is ‘potentially knowledgeable’ and becomes ‘actually knowledgeable’ http://www.csulb.edu/~dsteiger/
[2]  Dr. hasyim syah nasution,M.A. filsafat islam, gaya media pertama (GMP), Jakarta 1999, hlm 48.
[3]   Ibid, Dr. hasyim syah nasution,M.A. filsafat islam, gaya media pertama (GMP), Jakarta 1999, hal.49, dikutip dari al-fakhuri hal. 188
[4]   Ibid, hlm 50.
[5]   Ibid, hlm 52.

0 komentar:

Poskan Komentar